Kebohongan Umum dalam Resume yang Sering Berhasil
JAKARTA – Resume (CV) sering kali menjadi senjata utama dalam proses pencarian kerja. Dalam beberapa detik pertama, perekrut atau HRD akan menilai apakah seseorang layak dipanggil untuk wawancara hanya dari selembar dokumen.
Tekanan ini membuat banyak pelamar tergoda untuk memperbaiki atau bahkan berbohong demi terlihat lebih menarik dan kompeten.
Yang mengejutkan, banyak kebohongan tersebut justru berhasil mengantarkan pelamar ke tahap interview, bahkan hingga mendapatkan pekerjaan. Bukan karena HRD tidak pintar, tetapi karena kebohongan tersebut sulit diverifikasi di tahap awal, terlihat “masuk akal”, dan terdengar profesional.
Berikut adalah 8 kebohongan umum dalam resume yang sering dilakukan orang dan sering berujung pada mendapatkan pekerjaan:
1. Melebih-lebihkan Keterampilan (Skill Inflation)
Contoh:
– “Mahir Microsoft Excel” padahal hanya bisa basic formula
– “Menguasai Photoshop” padahal hanya bisa edit template
– “Fluent English” padahal hanya bisa percakapan dasar
Ini adalah kebohongan paling klasik dan sering dilakukan. Kenapa berhasil? Karena definisi “mahir” atau “menguasai” itu subjektif. HRD jarang menguji langsung skill teknis di tahap screening CV. Selama skill relevan dengan posisi dan terdengar masuk akal, resume akan lolos seleksi awal.
Masalahnya muncul saat:
– Tes teknis
– Interview mendalam
– Sudah masuk kerja
Namun, banyak orang tetap lolos karena bisa belajar cepat setelah diterima.
2. Memperbesar Peran dalam Tim (Role Exaggeration)
Contoh:
– “Memimpin proyek X” padahal hanya anggota tim
– “Mengelola klien” padahal hanya membantu komunikasi
– “Bertanggung jawab atas strategi pemasaran” padahal hanya eksekutor
Ini bukan bohong total, tapi distorsi peran. Kenapa berhasil? Karena resume tidak menampilkan struktur organisasi. HRD tidak tahu apakah kamu leader, koordinator, atau staf — yang penting deskripsinya terdengar strategis, aktif, dan berdampak.
Kalimat yang sering dipakai:
– “Bertanggung jawab atas…”
– “Mengelola…”
– “Memimpin proses…”
Padahal realitanya sering jauh lebih kecil dari itu.
3. Pengalaman Kerja Fiktif atau Setengah Fiktif
Contoh:
– Freelance project yang tidak pernah ada kliennya
– Startup kecil milik teman yang sebenarnya tidak aktif
– Proyek pribadi yang ditulis seolah proyek profesional
Kenapa berhasil? Karena freelance dan startup sulit diverifikasi. Banyak perusahaan tidak melakukan background check detail. HRD lebih fokus ke relevansi skill daripada validitas detail. Selama ceritanya logis dan bisa dijelaskan saat interview, kebohongan ini sering lolos.
4. Mengubah Alasan Keluar Kerja (Exit Reason Manipulation)
Contoh:
– Dipecat → “kontrak selesai”
– Tidak kuat tekanan → “mencari tantangan baru”
– Konflik internal → “ingin berkembang secara profesional”
Ini kebohongan yang sangat umum dan hampir dianggap “normal”. Kenapa berhasil? Karena HRD tidak bisa verifikasi alasan keluar dari CV. Alasan yang ditulis biasanya normatif dan positif, sehingga terlihat profesional dan matang secara emosional.
5. Memalsukan Tingkat Pendidikan atau Status Akademik
Contoh:
– Drop out → ditulis “sedang menyelesaikan skripsi”
– Belum lulus → ditulis “S1 – Universitas X”
– Gelar belum resmi → sudah dicantumkan
Kenapa berhasil? Karena verifikasi ijazah jarang dilakukan di awal. Banyak perusahaan baru mengecek dokumen saat onboarding. HRD lebih fokus ke pengalaman kerja dan skill. Jika kandidat sudah terlanjur lolos interview dan dianggap cocok, banyak perusahaan “menutup mata” selama performanya bagus.
6. Memanipulasi Durasi Kerja (Timeline Editing)
Contoh:
– Kerja 6 bulan → ditulis 1 tahun
– Gap 1 tahun → dihilangkan
– Pindah-pindah kerja → dirapikan timeline-nya
Kenapa berhasil? Karena HRD membaca pola, bukan detail tanggal. Yang mereka cari: stabilitas, konsistensi, tidak terlihat “job hopper”. Sedikit manipulasi tanggal sering tidak terdeteksi, apalagi jika tidak ada background check formal.
7. Menambahkan Sertifikat yang Tidak Pernah Diambil
Contoh:
– Menulis “sertifikasi digital marketing” tanpa pernah ikut program resmi
– Kursus online gratis → ditulis seolah sertifikasi profesional
– Webinar → ditulis sebagai pelatihan resmi
Kenapa berhasil? Karena nama sertifikasi terdengar meyakinkan. HRD jarang cek keaslian sertifikat satu per satu. Fokus pada relevansi, bukan validitas dokumen. Selama bisa menjelaskan materinya saat interview, biasanya lolos.
8. Memalsukan Soft Skill dan Karakter Pribadi
Contoh:
– “Leadership kuat”
– “Komunikatif”
– “Disiplin tinggi”
– “Mampu bekerja di bawah tekanan”
Padahal realitanya:
– Tidak suka kerja tim
– Mudah panik
– Tidak suka tanggung jawab
– Kurang konsisten
Kenapa berhasil? Karena soft skill tidak bisa diverifikasi dari CV. Semua orang bisa menulis hal yang sama. HRD hanya bisa menilai dari cara bicara dan sikap saat interview, itupun tidak selalu akurat.
Kenapa Kebohongan Ini Sering Berhasil?
Ada beberapa faktor utama:
– HRD screening ratusan CV → tidak bisa verifikasi detail satu per satu
– Resume adalah dokumen marketing, bukan dokumen hukum
– Interview lebih menilai kepercayaan diri daripada fakta
– Perusahaan butuh cepat mengisi posisi
– Skill bisa dipelajari, attitude bisa dibentuk (menurut banyak rekruter)
Selama kandidat terlihat:
– Bisa belajar cepat
– Adaptif
– Komunikatif
– Tidak bermasalah secara sikap
Maka banyak “kebohongan kecil” dianggap bisa ditoleransi.
Catatan Penting (Realistis, Bukan Moralis)
Ini bukan pembenaran etis untuk berbohong. Tapi realitanya, dunia kerja tidak sepenuhnya idealis. Resume sering lebih dekat ke “branding diri” daripada “laporan fakta objektif”.
Perbedaan tipisnya ada di sini:
– Bohong total → berbahaya
– Manipulasi fakta → abu-abu
– Framing cerdas → legal dan aman
Contoh framing cerdas:
– “Membantu proses pengelolaan klien”
– “Terlibat dalam pengembangan strategi pemasaran”
– “Berperan dalam koordinasi tim proyek”
Tanpa bohong, tapi tetap terlihat kuat.












