Mengapa Beberapa Orang Terasa Melelahkan Secara Emosional
JAKARTA – Tidak semua orang yang terlihat tidak ramah atau dominan bisa menjadi sumber kelelahan emosional. Justru, ada banyak individu yang tampak tenang dan tidak menonjol justru bisa menyebabkan tekanan psikologis yang berkelanjutan. Mereka tidak membuat konflik terbuka, tetapi kehadiran mereka sering kali terasa berat karena pola perilaku yang tidak langsung namun sangat memengaruhi.
Psikologi sosial menunjukkan bahwa kelelahan emosional dalam hubungan sering kali berasal dari kebiasaan kecil yang berulang. Hal-hal ini mungkin terlihat sepele, seperti diam atau sikap yang tidak jelas, namun dalam jangka panjang dapat menciptakan beban mental yang besar bagi orang di sekitarnya.
Berikut adalah beberapa kebiasaan yang secara psikologis bisa membuat seseorang terasa melelahkan untuk diajak bergaul jika dilakukan secara konsisten:
1. Selalu Memposisikan Diri sebagai Korban
Orang-orang ini jarang menyalahkan orang lain secara langsung, tetapi narasi hidupnya selalu mengarah pada rasa dirugikan, disalahpahami, atau diperlakukan tidak adil. Mereka sering mengucapkan kalimat seperti:
– “Aku nggak pernah seberuntung orang lain.”
– “Orang-orang selalu jahat sama aku.”
Pola pikir ini disebut victim mentality. Bergaul dengan orang seperti ini bisa sangat melelahkan karena kamu terus-menerus diposisikan sebagai pendengar penderitaan, bukan sebagai teman yang setara.
2. Pasif-Agresif Tanpa Pernah Terbuka
Alih-alih berbicara jujur, mereka mengekspresikan emosi melalui:
– Diam berkepanjangan
– Jawaban singkat
– Sikap dingin tanpa penjelasan
Sikap ini menciptakan ketegangan emosional yang tidak terlihat. Otak manusia secara alami mencari kejelasan, sehingga sikap pasif-agresif membuat orang lain terus menebak-nebak, yang sangat menguras energi mental.
3. Tidak Pernah Mengungkapkan Kebutuhan Sendiri
Mereka sering berkata:
– “Terserah.”
– “Aku ikut aja.”
Namun di dalam hati mereka kecewa jika keinginannya tidak terpenuhi. Ini membentuk beban emosional tersembunyi, karena orang lain harus menebak kebutuhan mereka tanpa informasi yang jelas.
4. Selalu Butuh Validasi Emosional Halus
Bukan pujian langsung yang diminta, tapi lewat kalimat seperti:
– “Aku sebenarnya nggak sepenting itu, sih.”
– “Aku cuma orang biasa.”
Tujuannya bukan komunikasi, tapi mancing penguatan emosional. Jika ini terjadi terus-menerus, hubungan berubah menjadi hubungan “pengasuh emosional”.
5. Terlalu Bergantung Secara Emosional
Mereka tidak menuntut secara eksplisit, tetapi:
– Selalu butuh teman bicara
– Sulit mandiri secara emosional
– Tidak nyaman sendirian
Dalam psikologi, ini disebut emotional dependency. Hubungan menjadi tidak seimbang karena satu pihak menjadi sumber stabilitas utama.
6. Tidak Pernah Memberi Ruang Emosi untuk Orang Lain
Mereka bercerita, tetapi jarang benar-benar mendengar. Saat kamu cerita, responsnya:
– Mengalihkan topik
– Membandingkan dengan dirinya
– Meremehkan masalahmu
Ini menciptakan hubungan satu arah secara emosional.
7. Selalu Menyimpan Masalah Tapi Menyebarkan Energi Negatif
Mereka bilang “nggak apa-apa”, tapi:
– Sikap berubah
– Aura jadi berat
– Interaksi terasa tegang
Ini disebut emotional leakage: emosi yang ditekan tetap keluar dalam bentuk suasana, bukan kata-kata.
8. Sulit Bahagia untuk Orang Lain
Bukan iri terang-terangan, tapi terlihat dari:
– Respon datar saat kamu bahagia
– Komentar netral saat kamu sukses
– Kurang antusias saat kamu berkembang
Secara psikologis ini mengurangi rasa aman emosional dalam hubungan.
9. Minim Inisiatif, Tapi Tinggi Ekspektasi
Mereka jarang:
– Menghubungi duluan
– Mengajak bertemu
– Berinisiatif menjaga hubungan
Tapi kecewa jika tidak diperhatikan. Ini menciptakan ketimpangan energi relasi.
10. Selalu Terlihat Baik, Tapi Emosinya Berat
Mereka sopan, tidak konflik, tidak kasar—namun setelah berinteraksi, kamu merasa:
– Lelah
– Kosong
– Berat
Psikologi menyebut ini sebagai emotional drain effect: kelelahan emosional tanpa sebab yang terlihat jelas.
Kenapa Ini Melelahkan Secara Psikologis?
Karena hubungan yang sehat membutuhkan:
– Timbal balik emosi
– Kejelasan komunikasi
– Keseimbangan energi
– Keamanan psikologis
Orang dengan kebiasaan-kebiasaan di atas tidak menciptakan konflik besar, tapi menciptakan kelelahan kronis emosional. Bukan karena mereka jahat — tapi karena pola relasinya tidak sehat.












