Jabar  

Apa Itu Ikan Dewa yang Mati Massal di Balong Girang? Mitos Ikan Keramat

Kematian Massal Ikan Dewa di Balong Girang Menggugah Perhatian Masyarakat

KUNINGAN – Kematian massal ikan dewa di Balong Girang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, telah menjadi perhatian publik. Fenomena ini terjadi untuk pertama kalinya, di mana ratusan ikan dewa yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat ditemukan mati dalam jumlah besar.

Kejadian ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran mengenai kondisi ekologis wilayah tersebut, tetapi juga membangkitkan kembali minat masyarakat tentang apa sebenarnya ikan dewa dan mengapa keberadaannya memiliki makna penting bagi penduduk setempat.

Berdasarkan laporan awal, jumlah ikan dewa yang mati telah melampaui 150 ekor dan terus bertambah sejak pertama kali ditemukan pada Rabu (28/1/2026). Situasi ini menunjukkan tingkat keprihatinan yang mendalam, karena ikan dewa di Balong Girang bukan hanya sekadar spesies air tawar, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang dijaga secara turun-temurun.

Apa Itu Ikan Dewa dan Identitas Biologisnya

Ikan dewa adalah ikan air tawar pribumi Indonesia dengan nama latin Tor sp., yang termasuk dalam keluarga karper dari suku Cyprinidae. Ikan ini dikenal memiliki pertumbuhan lambat, usia panjang, serta sensitivitas tinggi terhadap perubahan lingkungan perairan.

Di Indonesia, ikan dewa memiliki berbagai nama lokal, seperti ikan kancra di Jawa Barat, ikan tombro di Jawa Tengah, dan ikan semah di Sumatera. Di daerah lain, ikan ini juga dikenal dengan sebutan ikan batak, ikan curong, ikan lempon, hingga ikan torsoro. Meski demikian, istilah “ikan dewa” menjadi yang paling populer di kalangan masyarakat.

Nama tersebut tidak lepas dari kebiasaan ikan ini yang sering ditemukan hidup di kolam atau telaga larangan yang dikeramatkan oleh masyarakat adat. Keberadaannya dianggap sebagai simbol kekayaan alam dan kepercayaan lokal.

Ikan Dewa sebagai Simbol Budaya Lokal

Selain aspek ilmiah, keberadaan ikan dewa juga sangat berkaitan dengan keyakinan masyarakat setempat. Di Kuningan, ikan dewa dipercaya sebagai ikan keramat yang tidak boleh ditangkap atau dikonsumsi sembarangan. Mereka diyakini sebagai penjaga mata air dan simbol keseimbangan alam.

Keyakinan ini tampak jelas dalam respons masyarakat terhadap kematian massal ikan dewa. Dalam beberapa video viral, terlihat warga melakukan upacara penguburan layak, bahkan mengkafani dan membacakan doa untuk ikan-ikan yang mati.

Masyarakat percaya bahwa ikan dewa adalah penjelmaan prajurit Prabu Siliwangi atau titipan Sunan Gunung Jati. Hal ini menjadikan keberadaan ikan dewa sebagai bagian dari identitas budaya dan spiritual masyarakat setempat.

Kronologi Kematian Massal di Balong Girang

Peristiwa kematian massal ikan dewa di Balong Girang dilaporkan terjadi secara bertahap dalam beberapa hari terakhir. Awalnya, laporan menyebutkan sekitar 24 ekor ikan mati, namun dalam waktu singkat jumlahnya meningkat drastis hingga melebihi 150 ekor.

Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menyatakan bahwa pemerintah daerah telah langsung turun ke lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan. Menurutnya, kejadian ini tergolong serius karena belum pernah terjadi kematian massal ikan dewa dalam skala besar di Balong Girang.

Hingga saat ini, penyebab pasti kematian masih dalam proses penyelidikan. Pemerintah Kabupaten Kuningan melibatkan perangkat daerah dan tim teknis untuk melakukan pemeriksaan langsung di lapangan. Beberapa faktor yang sedang diteliti antara lain kemungkinan penyakit ikan, perubahan suhu air, kondisi fisik kolam, serta asupan nutrisi ikan dewa.

Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan indikasi penyakit pada ikan yang mati, seperti warna mulut yang memutih dan adanya parasit berupa cacing. Selain itu, perubahan suhu air yang ekstrem diduga berkontribusi terhadap stres pada ikan dewa.

Langkah Penanganan dan Mitigasi

Sebagai langkah awal pencegahan, tim teknis merekomendasikan penambahan oksigen di kolam Balong Girang melalui pompanisasi air. Tujuan dari langkah ini adalah untuk menstabilkan kondisi perairan agar kematian ikan tidak terus berlanjut.

Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan berkala untuk memastikan efektivitas penanganan. Masyarakat yang sigap melaporkan kejadian ini dinilai sangat membantu dalam mengambil langkah mitigasi awal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *