Kemenangan Dramatis Chelsea atas West Ham
JAKARTA – Chelsea berhasil menunjukkan karakter kuat mereka dengan bangkit di babak kedua dan meraih kemenangan dramatis 3-2 atas West Ham di Stamford Bridge. Pertandingan ini menjadi bukti bahwa ketangguhan dan semangat tim bisa mengubah situasi yang tampaknya sulit menjadi kemenangan yang luar biasa.
Meski melakukan tiga pergantian pemain sejak jeda, pelatih kepala Liam Rosenior tidak menyalahkan pemain yang ditarik keluar. Ia menegaskan bahwa masalah di babak pertama adalah kegagalan kolektif. Rosenior melakukan tujuh perubahan dari tim yang menang di Liga Champions tengah pekan lalu, tetapi keputusan tersebut sempat berdampak negatif.
Chelsea tampil tidak terorganisir, terutama di sisi kiri pertahanan, sehingga tertinggal dua gol lewat aksi Jarrod Bowen dan Crysencio Summerville. Situasi ini membuat para pendukung tuan rumah meluapkan kekecewaan mereka saat jeda.
Melihat timnya kesulitan, Rosenior langsung bereaksi dengan memasukkan Wesley Fofana, Marc Cucurella, dan Joao Pedro di awal babak kedua. Langkah ini terbukti krusial dan bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Premier League, Chelsea mampu membalikkan ketertinggalan dua gol di babak pertama menjadi kemenangan.
Fofana berperan dalam gol pertama Chelsea dengan memberikan umpan kepada Pedro. Tak lama berselang, Cucurella menyundul bola untuk menyamakan kedudukan. Di waktu tambahan, Pedro kembali jadi kreator dengan assist untuk gol kemenangan Enzo Fernandez.
Meskipun begitu, Rosenior menegaskan bahwa kebangkitan ini bukan hanya soal pergantian pemain. Ia menekankan pentingnya semangat, daya juang, dan ketahanan dalam tim. “Pelajaran terbesar yang saya dapatkan adalah adanya semangat, daya juang, dan ketahanan dalam kelompok ini yang sangat saya sukai,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa ia sudah menuntut hal itu sejak hari pertama. “Saya sudah berbicara tentang bereaksi positif terhadap kemunduran, tentang reaksi saat kehilangan bola, tekanan, energi, dan intensitas. Semua itu ada di babak kedua, yang tidak ada di babak pertama.”
Rosenior mengakui bahwa keputusan yang diambil di babak pertama tidak optimal. “Saya khawatir akan kekurangan energi. Saya merasa pengambilan keputusan kami sangat buruk di babak pertama.” Namun, ia yakin bahwa jika bisa memanfaatkan skuad dengan cara yang tepat, tim memiliki sesuatu yang sangat istimewa.
Jorrel Hato, Alejandro Garnacho, dan Benoit Badiashile adalah tiga pemain yang ditarik keluar lebih awal. Namun, Rosenior membela mereka dengan tegas. “Mudah kan – para pemain keluar lapangan dan kemudian orang-orang akan menyalahkan mereka,” ujarnya. “Itu bukan kesalahan mereka. Itu adalah penampilan buruk kolektif di babak pertama.”
Gol pertama West Ham terbilang beruntung setelah umpan silang Bowen lolos dari jangkauan kiper dan masuk ke gawang. Gol kedua datang lewat tembakan keras Summerville, yang membuat Stamford Bridge bergemuruh oleh cemoohan.
“Kami berhak untuk mencemooh,” kata Rosenior. “Saya juga akan mencemooh kami di babak pertama.” Ia berkata kepada para pemain saat jeda, bahwa mereka bisa mengubah perasaan terburuk musim ini menjadi perasaan terbaik musim ini.
Petaka bagi West Ham bertambah di masa tambahan waktu ketika Jean-Clair Todibo diganjar kartu merah akibat tindakan kekerasan terhadap Joao Pedro. Dari sisi tim tamu, sang manajer tetap mencoba melihat sisi positif meski kecewa dengan hasil akhir.
“Masih banyak pertandingan sepak bola yang harus dimainkan,” katanya. “Jika kita bisa mempertahankan level permainan seperti di babak pertama, kita akan memenangkan pertandingan.” Ia juga menyebutkan bahwa timnya membiarkan bek tengah mereka masuk dan melakukan umpan silang (untuk gol Pedro). Setelah itu, mereka berusaha bertahan.
Kemenangan ini bukan hanya soal tiga poin bagi Chelsea, tetapi juga bukti bahwa mentalitas dan respons di saat genting bisa mengubah malam yang buruk menjadi kemenangan yang tak terlupakan.












