Penyelidikan Resmi Jaksa Turki Terhadap Dokumen Jeffrey Epstein
JAKARTA – Pembukaan penyelidikan resmi oleh jaksa Turki terhadap dokumen Jeffrey Epstein menandai peningkatan signifikan dalam skandal global yang menguji batas akuntabilitas politik, perlindungan anak, dan kerja sama hukum lintas negara.
Kasus ini bukan hanya sekadar penelusuran arsip lama, tetapi juga menjadi momentum penting bagi dunia hukum dan politik yang berpotensi mengubah cara negara-negara menanggapi kejahatan perdagangan manusia yang berjejaring internasional.
Secara strategis, langkah Turki menunjukkan pergeseran dari sikap reaktif menuju penyelidikan proaktif di tengah tekanan publik global. Rilis besar-besaran dokumen Epstein oleh Amerika Serikat telah mengubah narasi Epstein dari tragedi kejahatan individual menjadi persoalan tata kelola global yang melibatkan banyak negara.
Kantor Kejaksaan Umum Ankara kini sedang menelaah sekitar tiga juta dokumen baru yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat (U.S. Department of Justice/DOJ) pekan lalu sebagai bagian dari penyelidikan dugaan perdagangan anak Turki oleh jaringan Epstein.
Penyelidikan ini bermula pada Desember 2025 setelah seorang anggota parlemen dari oposisi Partai İyi menyoroti rujukan dalam gugatan perdata terhadap Jeffrey Epstein pada 2008, yang secara eksplisit menyatakan bahwa ia diduga “mengangkut gadis-gadis di bawah umur dari Turki, Republik Ceko, Asia, dan berbagai negara lain, yang sebagian besar tidak dapat berbahasa Inggris,” sehingga memicu dorongan resmi bagi kejaksaan Ankara untuk membuka penyelidikan lebih luas.
Masuknya jutaan dokumen baru memperluas cakupan penyelidikan dari kasus hukum lama menjadi audit nasional terhadap potensi kegagalan negara melindungi warganya. Jaksa tidak hanya mencari bukti pidana, tetapi juga pola jaringan, alur perantara, dan kemungkinan keterlibatan lokal.
Tekanan Politik Di Ankara Meningkat
Tekanan politik di Ankara meningkat dengan adanya desakan dari Partai İyi agar penyelidikan kejaksaan dilengkapi mekanisme parlemen agar lebih transparan dan memiliki daya paksa politik yang lebih kuat.
Juru bicara Partai İyi, Bugra Kavuncu, menegaskan urgensi langkah ini dengan pernyataan yang lugas, “Kami mengusulkan pembentukan komisi parlemen secara mendesak untuk menyelidiki apakah ada anak-anak Turki yang menjadi korban dalam kasus Epstein, serta nasib mereka, rehabilitasi mereka, dan perlindungan mereka jika masih hidup dan dapat diakses.” Ia menempatkan isu ini di atas kepentingan politik dengan menambahkan, “Isu-isu semacam ini, di atas segalanya, ini adalah soal kemanusiaan, bukan permainan politik.”
Di sisi lain, anggota parlemen Dogan Bekin dari Partai Yeniden Refah telah mengajukan pertanyaan resmi kepada Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keluarga dan Layanan Sosial. Ia meminta penjelasan apakah ada anak yang “menjadi korban geng kriminal Epstein” serta apakah pemerintah telah melakukan inspeksi di sekolah dan panti asuhan.
Bekin mengutip data Institut Statistik Turki yang menunjukkan 104.531 anak dilaporkan hilang antara 2008–2016, mayoritas anak-anak perempuan yang usianya masih di bawah umur. Angka ini, menurutnya, menuntut pemeriksaan serius terhadap kemungkinan keterkaitan dengan jaringan perdagangan manusia internasional.
Dampak Global Dari Rilis Dokumen Epstein
Di panggung global, rilis dokumen ini telah mengguncang sejumlah negara. Di Inggris, mantan diplomat dan bangsawan Peter Mandelson mengundurkan diri setelah bukti kedekatan jangka panjangnya dengan Epstein terungkap ke publik. Tokoh publik di AS, Israel, Uni Emirat Arab, dan Slovakia turut disorot, menunjukkan bahwa skandal ini bersifat sistemik, bukan insidental.
Dalam konteks pemerintahan Turki, beberapa pejabat senior memang disebut dalam dokumen, tetapi sejauh ini tidak ada bukti langsung soal keterlibatan mereka dalam kejahatan Epstein. Namun, penyebutan nama mereka tetap memicu pertanyaan politik dan diplomatik.
Salah satu temuan sensitif berasal dari email pengusaha AS Tom Pritzker yang tampak mengatur pertemuan antara Epstein dan Menteri Luar Negeri Turki saat itu, Ahmet Davutoglu, pada 2010. Pritzker menulis, “Saya baru saja mendapat balasan dari Davutoglu. Ia meminta Anda menghubunginya. Ia hanya akan berada di tempat hingga tengah hari.”
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Partai Gelecek (Future Party), Mustafa Gozel, membantah adanya pertemuan substantif antara Ahmet Davutoglu dan Epstein. Ia menegaskan bahwa kontak yang terjadi hanyalah pertemuan singkat terkait diplomasi Turki di Amerika Serikat, seraya menyatakan, “Ketua kami menjelaskan bahwa pertemuan itu sebatas percakapan singkat untuk mendukung langkah Kementerian Luar Negeri menghadapi lobi Armenia di AS, dan ia tidak pernah meminta ataupun memiliki pertemuan sebelumnya dengan Jeffrey Epstein.”
Tantangan Dan Harapan Di Masa Depan
Dokumen lain menunjukkan email Epstein pada 2011 yang menyebut kemungkinan menemui Presiden Recep Tayyip Erdogan sebelum berangkat ke Bodrum, tetapi tidak ada bukti rencana tersebut terealisasi, bahkan beberapa email lain memperlihatkan sikap kritis Epstein terhadap Erdogan.
Secara analitis, penyelidikan ini menempatkan Turki di persimpangan antara kedaulatan nasional dan tuntutan keadilan global. Keberhasilannya akan bergantung pada keberanian politik, independensi jaksa, dan transparansi proses hukum.
Bagi komunitas internasional, kasus ini menjadi ujian nyata apakah negara-negara berpengaruh benar-benar berani membongkar jejaring elite global yang selama bertahun-tahun memberi perlindungan politik, finansial, dan sosial kepada pelaku kejahatan seksual, pedofilia, serta eksploitasi anak di bawah umur, atau justru kembali menutupinya demi kepentingan kekuasaan.
Akhirnya, publik tidak hanya menunggu temuan hukum, tetapi juga langkah nyata untuk melindungi korban, memperkuat mekanisme pencegahan, dan memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang di masa depan.












