Kenaikan Harga Emas Akibat Ketidakpastian Tarif Trump

Emas Kembali Melonjak Akibat Ketidakpastian Kebijakan Trump

JAKARTA – Harga emas kembali mengalami penguatan setelah mengalami reli selama tiga minggu berturut-turut. Penguatan ini didorong oleh ketidakpastian terkait kebijakan tarif yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang berdampak pada pelemahan dolar AS dan memicu gelombang ketegangan di pasar global.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada Senin (23/2/2026), harga emas mencatat kenaikan sebesar 1,3% menjadi US$5.174,75 per troy ounce. Sementara itu, harga emas di bursa Comex juga menguat dengan kenaikan sebesar 2,08% menjadi US$5.186,70 per troy ounce. Kenaikan ini menunjukkan bahwa emas semakin diminati sebagai aset pelindung nilai dalam situasi ketidakpastian ekonomi.

Ketidakpastian tersebut muncul setelah Presiden Trump mengumumkan rencana untuk memberlakukan tarif global sebesar 15% guna menjaga kebijakan dagangnya. Keputusan ini dilakukan setelah Mahkamah Agung AS membatalkan penggunaan kewenangan darurat untuk menetapkan bea masuk. Pelemahan dolar AS membuat emas lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan.

Selain itu, putusan pengadilan tersebut memunculkan keraguan terhadap beberapa kesepakatan dagang yang telah dibuat AS dengan mitra utamanya. Seorang pejabat dari Parlemen Eropa menyatakan akan mengusulkan penundaan ratifikasi perjanjian dengan Washington hingga ada kejelasan mengenai kebijakan perdagangan yang akan diambil.

Di sisi lain, pejabat India juga memutuskan untuk menunda kunjungan ke AS, sementara anggota partai berkuasa di Jepang menyebut situasi ini sebagai kekacauan nyata. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpastian kebijakan AS mulai memengaruhi hubungan diplomatik dan ekonomi antar negara.

Meski demikian, reli harga emas baru-baru ini membantu emas pulih dari tekanan tajam di awal bulan yang sempat menurunkan harga dari level rekor. Tren penguatan ini didukung oleh faktor-faktor fundamental jangka panjang seperti meningkatnya ketegangan geopolitik serta kehati-hatian investor terhadap obligasi dan mata uang negara.

Vasu Menon, analis dari Oversea-Chinese Banking Corp, menjelaskan bahwa ada banyak faktor struktural yang mendukung emas dalam jangka menengah. Namun, ia juga menyampaikan bahwa dalam jangka pendek, harga emas berpotensi mengalami volatilitas setelah mengalami kenaikan tajam beberapa bulan terakhir.

Menon menilai bahwa situasi kebijakan perdagangan AS dan dinamika di Iran dapat memengaruhi harga emas secara signifikan. Di kawasan Timur Tengah, pelaku pasar tetap memantau ketegangan antara AS dan Iran.

Meskipun kedua negara sedang melakukan pembicaraan terkait potensi kesepakatan nuklir Iran, AS dilaporkan telah mengerahkan pasukan militer besar di kawasan tersebut, memicu kekhawatiran akan kemungkinan serangan terbatas hingga konflik terbuka.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa emas masih menjadi aset yang diminati dalam situasi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Dengan berbagai faktor yang saling memengaruhi, harga emas diprediksi akan tetap bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *