SLAWI – Bencana tanah bergerak hingga merusak ratusan rumah menimbulkan trauma tersendiri bagi warga yang tinggal di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Salah satu pengungsi bernama Nur Halimah (35) menceritakan momentum mencekam saat rumahnya hancur pada Selasa (3/2/2025) malam. “Jam sembilan malam saya keluar karena tembok sudah hancur. Tanah sudah merembes ke bawah, diinjak saja sudah tidak bisa,” kata Nur di tempat pengungsian, Jumat (6/2/2026).
Nur kemudian memilih keluar rumah dan tinggal di tenda pengungsian bersama anaknya yang masih berusia 5 tahun. Dia berharap pemerintah segera memberikan tempat tinggal yang layak di lokasi yang jauh dari area perbukitan untuk menghapus trauma keluarganya.
Warga lainnya, Ahmad Ubaidillah, siswa kelas V SD Padasari 01 juga mengungkap bahwa rumahnya tidak roboh, namun mengalami pergeseran sehingga tidak lagi aman untuk ditempati. “Sudah sekitar tiga hari tinggal di tempat ngungsi. Rumahnya nggak hancur, tapi miring ke atas,” kata Ahmad.
Karena rasa bahaya yang mengancam itu membuat seluruh anggota keluarga memilih mengungsi demi keselamatan.
Menurut Ahmad, hampir semua warga di sekitar rumahnya juga telah meninggalkan permukiman. “Walaupun rumahnya nggak hancur, ya tetap sedih,” kata Ahmad.
Sementara, Bupati Tegal Ischak melaporkan bahwa tercatat sebanyak 464 rumah terdampak, dengan 250 di antaranya rusak berat. Sementara lebih dari 2.000 jiwa mengungsi di empat posko utama.
Bupati menambahkan pihaknya telah menyiapkan rencana relokasi ke lahan milik Perhutani yang dinilai lebih stabil dan aman untuk dibangun hunian sementara (Huntara).
“Tadi Mas Wapres sudah mengecek lokasi atas sudah tidak aman. Kami sudah siapkan langkah relokasi ke lahan Perhutani di bagian bawah. Kami mohon dukungan izin dan bantuan pembangunan huntara dari pemerintah pusat,” kata Bupati Ischak.
Sebelumnya, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026).
Gibran menegaskan bahwa pemerintah memprioritaskan keselamatan jiwa warga di atas segalanya. Warga diminta untuk tidak memaksakan diri kembali ke rumah masing-masing karena kondisi tanah yang masih labil dan sangat berbahaya.
”Tadi saya naik motor melihat langsung lokasi. Aspal sudah terbuka dan tanah masih bergerak. Ini sangat berbahaya, rumah bisa roboh kapan saja. Saya minta Bapak dan Ibu jangan paksakan kembali ke sana,” kata Gibran dalam keterangan yang dirilis Humas Pemkab. Tegal, Jumat.
Di hadapan para pengungsi yang berada di Posko Pengungsi Majelis Az Zikir Wa Rotibain, Gibran memberikan jaminan kepada warga yang kehilangan dokumen penting seperti sertifikat tanah, akta kelahiran, maupun Kartu Keluarga (KK).
Gibran menginstruksikan jajaran terkait untuk memproses dokumen pengganti dengan cepat. ”Sertifikat atau akta yang hilang nanti langsung diurus, satu hari jadi. Bapak Ibu tidak perlu risau,” kata Gibran.
Gibran secara khusus menitipkan penanganan kelompok rentan kepada Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman.
Gibran meminta agar kebutuhan lansia, ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, serta kaum difabel terpenuhi dengan layak, termasuk ketersediaan tim medis dan obat-obatan selama 24 jam.












