Ragam  

Ketika Industri Film Kehilangan Arah Moral

Kritik terhadap Pemilihan Pemeran dalam Serial “Pernikahan Dini Gen Z”

JAKARTA – Ketika kita mendengar frasa “film adalah potret realitas”, sebagian besar dari kita mungkin akan mengangguk setuju. Namun, di balik itu, ada pertanyaan penting yang perlu diajukan: Apakah semua bentuk realitas yang ditampilkan dalam film layak disebut sebagai seni? Atau justru menjadi eksploitasi yang tidak beretika?

Serial “Pernikahan Dini Gen Z” yang dibintangi oleh Aliando Syarief dan Richelle Skornicki menimbulkan banyak pro dan kontra. Di satu sisi, serial ini dianggap memiliki kualitas visual yang menarik, dengan grading warna yang indah dan alur cerita yang menarik. Di sisi lain, pemilihan pemeran yang diperdebatkan telah memicu diskusi serius tentang etika dalam industri hiburan.

Dalam industri perfilman global seperti Hollywood atau Korea Selatan, ada protokol ketat terkait penggunaan aktor remaja dalam adegan romantis, seksual, atau kekerasan. Karakter remaja biasanya diperankan oleh aktor dewasa yang memiliki kemampuan untuk memisahkan diri dari peran mereka. Hal ini dilakukan untuk melindungi mental sang aktor dan mematuhi hukum perlindungan anak.

Namun, di Indonesia, terdapat kecenderungan aneh dalam pemilihan pemeran. Dalam kasus “Pernikahan Dini Gen Z”, produser dan sutradara memilih Aliando Syarief (lahir tahun 1996) yang berusia 29 tahun untuk beradegan mesra dengan Richelle Skornicki (lahir tahun 2009 saat syuting). Menurut undang-undang, siapa pun yang belum berusia 18 tahun dianggap sebagai anak-anak.

Ini bukan sekadar masalah usia, tetapi juga soal dinamika di lokasi syuting. Bayangkan seorang gadis remaja yang masih memiliki pengalaman hidup terbatas dan kematangan emosional yang belum sepenuhnya berkembang. Ia ditempatkan di tengah-tengah puluhan kru yang mayoritas laki-laki dewasa, berhadapan dengan lawan main pria dewasa, dan diperintah oleh sutradara dewasa. Bagaimana ia bisa merasa aman dan nyaman dalam situasi tersebut?

Masalah ini juga melibatkan aspek consent (persetujuan). Apakah Richelle benar-benar memberikan persetujuan atas tubuh dan emosinya? Atau ia hanya melakukan itu karena tekanan profesionalisme, rasa takut mengecewakan kru, atau jeratan kontrak kerja yang mungkin ditandatangani oleh orang tuanya?

Di sini, batas antara profesionalisme dan paksaan halus menjadi kabur. Anak dipaksa meminjamkan tubuh dan emosinya untuk memuaskan industri, tanpa memiliki otonomi penuh atas situasi tersebut.

Bahaya terbesar dari tontonan ini bukan hanya pada apa yang terjadi di lokasi syuting, tetapi pesan bawah sadar yang dikirimkan kepada jutaan penonton remaja Indonesia. Media adalah alat edukasi paling efektif. Ketika penonton melihat Aliando menatap Richelle dengan tatapan penuh hasrat, dan kamera membingkainya dengan musik balada yang mendayu serta pencahayaan dreamy, kita sedang diajak untuk menormalisasi hubungan romantis antara orang dewasa dan anak-anak.

Ini berpotensi mengaburkan batas tegas antara cinta sejati dan perilaku grooming. Grooming adalah proses di mana orang dewasa membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan anak di bawah umur untuk tujuan memanipulasi atau mengeksploitasi mereka (baik secara seksual maupun emosional).

Mengapa casting director dan produser meloloskan ini? Jawabannya mungkin terdengar klise namun menyedihkan. Visual dan viralitas. Industri sering kali malas mencari aktris dewasa yang baby-face dan memiliki kemampuan akting mumpuni. Mereka lebih memilih kepolosan yang autentik, kegugupan, dan kenaifan seorang remaja asli sebagai nilai jual visual.

Industri hiburan mengeksploitasi masa muda dan ketidaktahuan seorang aktris demi rating, tanpa memikirkan dampak psikologis jangka panjang bagi si anak yang harus dipaksa dewasa sebelum waktunya.

Kritik ini tidak ditujukan kepada para aktor secara personal. Aliando Syarief dan Richelle Skornicki hanyalah pekerja seni yang menjalankan skrip dan kontrak. Richelle, khususnya, adalah pihak yang paling rentan dalam sistem ini dan tidak sepantasnya dirundung.

Kritik ini tertuju lurus kepada produser, sutradara, pemilik rumah produksi, dan petinggi platform streaming yang memberi lampu hijau pada proyek ini. Mereka yang memiliki kuasa, modal, dan seharusnya memiliki nalar etika.

Sudah saatnya penonton Indonesia tidak lagi menelan mentah-mentah alasan “ini cuma film” atau “ceritanya kan memang tentang anak sekolah”. Cerita tentang anak sekolah tidak mengharuskan anak asli untuk melakukan adegan dewasa dengan orang dewasa. Itu adalah dua hal yang berbeda.

Media membentuk budaya. Media membentuk pola pikir. Jika kita terus membiarkan tontonan yang memasangkan pria dewasa dengan anak di bawah umur dalam bingkai romantis, jangan heran jika angka kekerasan seksual, pernikahan anak, dan manipulasi seksual di dunia nyata sulit ditekan. Tanpa sadar, tontonan kita sendiri yang memberi tutorial, pembenaran, dan soundtrack romantis atas perilaku tersebut.

Anak-anak berhak mendapatkan ruang aman untuk berkarya dan berekspresi seni. Namun, ruang itu tidak boleh menjadi tempat di mana mereka dipaksa menjadi objek fantasi romantic. Kita butuh regulasi industri yang lebih ketat. Kita butuh sineas yang tidak hanya jago bikin gambar bagus, tapi juga punya nurani untuk melindungi masa depan anak-anak yang bekerja untuk mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *