Proses Pemilihan Pemimpin Baru Hamas
JAKARTA – Hamas, kelompok yang beroperasi di Jalur Gaza, sedang menjalani proses pemilihan pemimpin baru. Dua tokoh utama yang disebut memiliki peluang besar untuk memimpin biro politik Hamas adalah Khaled Meshaal dan Khalil al-Hayya. Proses ini dilakukan sebagai bagian dari mekanisme internal organisasi tersebut.
Seorang pejabat senior Hamas menyampaikan bahwa organisasi tersebut telah menyelesaikan pemilihan internal di tiga wilayah, yaitu Jalur Gaza, Tepi Barat, dan kepemimpinan eksternal. Selain itu, dewan syura juga telah dibentuk. Dewan ini merupakan badan konsultatif yang terdiri dari para ulama dan anggota lainnya. Anggota Hamas yang ditahan di penjara Israel juga berhak ikut serta dalam pemilihan.
Dewan syura akan memilih biro politik, dan selanjutnya biro politik akan menentukan kepala gerakan Hamas. Menurut sumber Hamas, pemimpin baru hanya akan menjabat selama satu tahun masa transisi. Tujuan utama dari proses ini adalah untuk memperbarui legitimasi internal dan mengisi kekosongan kepemimpinan.
Latar Belakang Dua Calon Utama
Khaled Meshaal dan Khalil al-Hayya sama-sama memiliki pengalaman yang matang dalam perjalanan organisasi Hamas. Al-Hayya, yang saat ini berusia 65 tahun, berasal dari Gaza dan pernah menjadi kepala negosiator dalam perundingan gencatan senjata. Menurut LSM Counter Extremism Project (CEP), Al-Hayya telah memegang peran penting sejak tahun 2006.
Sementara itu, Khaled Meshaal berasal dari Tepi Barat. Ia lahir pada tahun 1956 dan pernah memimpin biro politik Hamas dari tahun 2004 hingga 2017. Namun, Meshaal tidak pernah tinggal di Gaza. Ia bergabung dengan Hamas di Kuwait dan kemudian tinggal di Yordania, Suriah, dan Qatar. Menurut CEP, Meshaal memegang peran penting dalam evolusi Hamas menjadi organisasi yang menggabungkan aspek politik dan militer. Saat ini, ia memimpin kantor diaspora Hamas.
Tantangan yang Dihadapi Pemimpin Baru
Pemimpin baru Hamas akan menghadapi tantangan besar, terutama dalam konteks perdamaian Gaza. Proses perdamaian yang digagas oleh AS mencakup isu demiliterisasi Gaza. Israel, sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam dewan perdamaian yang dibentuk oleh Presiden AS Donald Trump, menolak rekonstruksi Gaza sebelum Hamas dilucuti senjata.
Hamas telah menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerahkan persenjataan selama penjajahan Israel atas wilayah Palestina masih berlangsung. Namun, Hamas juga pernah menyatakan siap menyerahkan senjata kepada otoritas Palestina di Gaza dengan beberapa syarat tertentu.
Perubahan Kepemimpinan dalam Dua Tahun Terakhir
Selama dua tahun perang di Gaza (Oktober 2023 hingga Oktober 2025), Israel membunuh dua pemimpin Hamas. Pertama, Ismail Haniyeh, yang dibunuh di Teheran, Iran, pada Juli 2024. Setelah itu, kepemimpinan Hamas dilanjutkan oleh Yahya Sinwar, yang merupakan kepala Hamas di Kota Gaza. Sinwar akhirnya turut dibunuh pasukan Israel di kota Rafah, Gaza selatan, tiga bulan setelah wafatnya Haniyeh.
Peristiwa ini menunjukkan dinamika politik dan militer yang terjadi di wilayah tersebut, serta bagaimana perubahan kepemimpinan dapat memengaruhi jalannya konflik dan proses perdamaian.






