7 Fakta Maut Kakak Beradik PNS Gorontalo, Pesan Terakhir Fanni Jadi Perhatian Keluarga

Sosok Korban yang Tercinta dan Dedikasi Tinggi

JAKARTA – Duka mendalam mengiringi kepergian dua sosok abdi negara, Fanni Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki. Keduanya meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan mobil di Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, pada Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.30 Wita. Mereka adalah kakak beradik yang memiliki dedikasi tinggi dalam bidang masing-masing.

Yessi Sukersi Mustaki (41) adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 5 Gorontalo. Di mata para murid dan rekan sejawat, ia dikenal sebagai pendidik yang sangat sabar dan ramah.

Ia tidak pernah memarahi siswa yang kesulitan belajar dan selalu bersedia mengulang materi dari awal demi pemahaman muridnya. Mantan siswanya, Widiastuti, mengungkapkan bahwa Yessi sangat welcome saat mengajar dan sangat humble juga.

Sementara itu, adik Yessi, Fanny Anelsia Mustaki, mengabdi sebagai Pranata Humas pada bidang Intelijen di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo. Kepergian Fanny dalam kecelakaan maut di Minahasa Selatan meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekannya di Kejati Gorontalo.

Salah satu rekan kerjanya, Yursin Djafar, menyebut Fanny sebagai sosok yang sangat ramah, mudah bergaul, dan selalu membawa suasana hangat di lingkungan kerja. Menurut Yursin, Fanny masih beraktivitas seperti biasa dan bertegur sapa dengan rekan-rekannya pada Jumat sebelum kejadian.

Kronologi Kecelakaan di Jalur Trans Sulawesi

Peristiwa nahas ini bermula saat kedua korban melakukan perjalanan darat dari arah Gorontalo menuju Kota Manado. Mereka menumpangi mobil PO Garuda dengan nomor polisi DM 1195 BA yang dikemudikan oleh sopir bernama Ismail Zees (47).

Tujuan perjalanan mereka adalah untuk mengunjungi ibu mereka di Manado dalam rangka mengisi waktu liburan. Namun, perjalanan yang seharusnya penuh kebahagiaan tersebut justru berubah menjadi tragedi memilukan di Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan.

Mobil yang mereka tumpangi dilaporkan melaju dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya pengemudi kehilangan kendali atas kendaraannya. Mobil berwarna hitam tersebut kemudian keluar dari badan jalan dan menabrak sebuah pohon serta bangunan rumah makan di pinggir jalan. Kondisi kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan parah atau ringsek akibat benturan keras yang terjadi di lokasi kejadian.

Berdasarkan data dari pihak kepolisian, terdapat empat orang korban dalam insiden ini, di mana dua di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Fanny Anelsia Mustaki dan Yessi Sukersi Mustaki menjadi korban jiwa dalam kecelakaan yang terjadi pada Sabtu pagi tersebut.

Sementara itu, pengemudi mobil yakni Ismail Zees dilaporkan mengalami luka berat dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Satlantas Polres Minsel, Iptu Engelina Yusuf, mengonfirmasi bahwa kedua korban meninggal dunia adalah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Gorontalo.

Niat Mengunjungi Ibu di Masa Libur

Perjalanan darat yang ditempuh kedua korban bukanlah perjalanan dinas, melainkan perjalanan keluarga yang didasari rasa rindu. Keduanya berniat menuju Kota Manado, Sulawesi Utara, untuk mengunjungi ibu mereka dalam rangka mengisi waktu libur.

Harapan untuk berkumpul bersama keluarga di kampung halaman seketika berubah menjadi tragedi memilukan bagi pihak keluarga yang telah menanti kedatangan mereka.

Kepergian dua bersaudara sekaligus dalam satu waktu menjadi cobaan yang sangat berat bagi keluarga besar Mustaki. Dalam kecelakaan tunggal tersebut, terdapat total empat orang di dalam kendaraan.

Selain Fanny dan Yessi yang meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka serius, sang pengemudi, Ismail Zees, mengalami luka berat dan harus segera dilarikan ke RSUD Teep Minsel untuk penanganan intensif. Sementara itu, satu penumpang lainnya bernama Doni Tentero (45) dikabarkan selamat dengan luka ringan.

Pesan Terakhir yang Tak Biasa

Sebuah fakta menyedihkan terungkap mengenai komunikasi terakhir Fanny Anelsia Mustaki sebelum maut menjemput. Menurut tetangga korban, Apris Doda, Fanny menunjukkan gelagat tidak biasa dengan menghubungi pamannya melalui telepon pada malam sebelum kejadian.

Biasanya, sang pamanlah yang lebih sering menelepon untuk menanyakan kabar. Dalam percakapan singkat tersebut, Fanny menitipkan pesan agar mobil pribadinya tidak dibawa ke bengkel untuk sementara waktu.

Pesan tersebut menjadi komunikasi verbal terakhir yang diterima pihak keluarga sebelum berita duka sampai ke telinga mereka. Keluarga besar baru mengetahui kabar mengenai kecelakaan yang menimpa Fanni dan Yessi pada pagi hari Sabtu (14/3/2026) sekitar pukul 06.00 Wita. Padahal, berdasarkan estimasi waktu kejadian, kecelakaan hebat tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.00 Wita dini hari.

Penghormatan Terakhir dari Pimpinan Daerah

Sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian keduanya sebagai PNS, Pemerintah Provinsi Gorontalo memberikan penghormatan terakhir secara resmi. Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, hadir langsung di rumah duka di Jalan Pangeran Hidayat untuk memimpin prosesi pelepasan jenazah. Tidak hanya Gubernur, Wakil Gubernur Idah Syahidah pun turut hadir mengantarkan kedua jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

Suasana Haru Pemakaman di Rumah Duka

Prosesi pemakaman yang berlangsung pada Minggu (15/3/2026) diwarnai isak tangis yang pecah dari ratusan pelayat. Karena banyaknya jamaah yang hadir, salat jenazah terpaksa dilaksanakan di badan jalan depan rumah duka dengan adik laki-laki korban bertindak sebagai imam.

Suasana semakin menyayat hati ketika sang adik tak mampu menahan tangis saat melantunkan takbir. Setelah seluruh rangkaian prosesi agama dan kedinasan selesai, kedua almarhumah dimakamkan berdampingan di area pemakaman keluarga yang terletak tepat di samping rumah duka mereka di Kelurahan Wongkaditi Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *