Diskusi Komunikolog dengan Tokoh Nasional
JAKARTA – Sejumlah komunikolog Indonesia menggelar dialog bersama tokoh nasional, Jusuf Kalla, di kediamannya di Jakarta. Pertemuan tersebut berlangsung pada hari Sabtu (15/3/2026) pukul 16.30 WIB dan menjadi ajang silaturahmi sekaligus diskusi mendalam tentang isu-isu komunikasi publik serta dinamika geopolitik global.
Diskusi ini dihadiri oleh berbagai akademisi dan praktisi komunikasi, seperti Emrus Sihombing, Prof. Gun Gun Heryanto, Effendi Gazali, Suko Widodo, Prof. Lely Arrianie, Hasrullah, Prof. Marlinda, Prof. Soraya, serta dua komika, Mo Sidik dan Adriano Qalbi. Koordinator Komunikolog Indonesia, Suko Widodo, menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan kelanjutan dari diskusi yang sering dilakukan bersama Jusuf Kalla.
Perkembangan Komunikasi Pemerintah
Para komunikolog menyatakan bahwa mereka ingin pemerintahan berjalan sukses, tetapi melihat adanya penurunan kualitas komunikasi pemerintah yang dirasakan masyarakat. Mereka menilai bahwa komunikasi pemerintah perlu diperbaiki agar lebih mudah dipahami oleh rakyat.
Dalam diskusi tersebut, isu nasional juga dibahas, termasuk posisi Indonesia dalam kerja sama internasional serta program strategis pemerintah. Pengamat komunikasi politik, Prof. Gun Gun Heryanto, menjelaskan bahwa mereka ingin mendengar langsung pandangan Jusuf Kalla terkait dinamika geopolitik, khususnya konflik internasional dan upaya perdamaian.
Evaluasi Kerja Sama BOP
Masalah kerja sama BOP (Bantuan Operasional Pemerintah) turut menjadi topik utama. Menurut Prof. Gun Gun Heryanto, ada perdebatan di masyarakat terkait keterlibatan Indonesia dalam kerja sama tersebut. Ia menilai perlu ada batas waktu yang jelas untuk mengevaluasi efektivitasnya.
“Presiden sudah menyampaikan bahwa jika BOP tidak sejalan dengan visi Indonesia, maka Indonesia bisa keluar. Kami menyarankan adanya deadline. Misalnya dua minggu ke depan tidak ada langkah konkret menuju perdamaian Palestina, maka Indonesia sebaiknya mempertimbangkan keluar,” ujarnya.
Masukan Kritis untuk Pemerintah
Para komunikolog menegaskan akan terus memberikan masukan kritis demi mendukung keberhasilan pemerintahan di tengah tantangan nasional dan global yang semakin kompleks. Prof. Lely Arrianie menyoroti maraknya kekerasan terhadap aktivis, termasuk kasus penyiraman air keras yang menurutnya harus diusut hingga ke aktor intelektualnya.
“Jangan hanya berhenti pada narasi atau retorika. Kasus teror seperti kepala babi busuk saja sampai sekarang belum jelas pengusutannya,” katanya.
Emrus Sihombing juga menyoroti dugaan penyimpangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia meminta pemerintah segera membuka data secara transparan, termasuk terkait dugaan praktik “ternak yayasan” dalam pelaksanaan program tersebut.
Isu Ekonomi Global
Isu ekonomi global juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut. Hasrullah menilai konflik yang melibatkan Israel dan Iran berpotensi berdampak pada kondisi ekonomi global, termasuk Indonesia. Peneliti komunikasi, Effendi Gazali, menambahkan bahwa para komunikolog mendukung penuh keberhasilan pemerintah, namun tetap akan bersikap kritis.
Ia juga menyinggung pesan Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar para pembantu presiden tidak memberikan laporan asal bapak senang (ABS). “Kami menyambut baik ajakan Presiden agar tidak ada laporan ABS. Jadi ketika berbicara kepada presiden jangan menjadi ‘kucing basah’,” ujarnya.












