Jateng  

Kisah Rehan, Anak Kuli Bangunan Sukses Tembus NASA dengan HP Seadanya, Impiannya Miliki Laptop

Seorang Pemuda dari Purbalingga Dianugerahi Penghargaan oleh NASA

PURBALINGGA – Aan Rehan, seorang pemuda asal Desa Tunjung Muli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mendapatkan apresiasi dari NASA.

Meski lulus dari SMK Mutu Tunjung Muli dengan jurusan agribisnis, Rehan justru menemukan passionnya di bidang teknologi keamanan siber. Ia menjadi salah satu bug hunter muda yang sukses menemukan kerentanan sistem digital dan memberikan kontribusi penting untuk memperbaiki keamanan siber.

Rehan awalnya tidak memiliki rencana untuk berada di bidang teknologi. Setelah lulus dari SMPN 4 Karangmoncol, ia sempat mendaftar ke sekolah negeri tetapi tidak diterima.

Akhirnya, ia masuk ke SMK Tunjung Muli dan memilih jurusan agribisnis. Namun, minatnya terhadap teknologi mulai tumbuh setelah ia membaca berita tentang kebocoran data di media sosial. Rasa penasaran ini semakin kuat ketika kasus hacker Bjorka ramai dibicarakan.

Di tahun 2022, saat usianya masih 17 tahun, Rehan memulai belajar otodidak melalui internet dan YouTube. Ia mempelajari bagaimana menemukan kerentanan pada sistem digital, termasuk pemetaan aset website, ekstraksi tautan, hingga memahami data sensitif yang seharusnya tidak terpapar publik.

Setelah enam bulan belajar, ia akhirnya mencoba menguji kemampuannya. Dalam praktik pertamanya, Rehan menemukan data pribadi seperti NIK, KK, nomor telepon, dan nama lengkap yang bisa diakses secara publik dari sebuah web instansi.

Ia langsung menyusun laporan kerentanan dan mengirimkannya ke beberapa lembaga seperti CSIRT, Diskominfo, dan BSSN. Salah satu temuan pertamanya adalah celah SQL Injection pada website Kabupaten Mesuji, Lampung, yang kemudian segera diperbaiki.

Sejak itu, Rehan terus berusaha menemukan kerentanan lainnya. Di Kabupaten Purbalingga, ia pernah menemukan sekitar 1.000 data warga yang bocor. Semua temuannya selalu dilaporkan dan ditindaklanjuti.

Hingga tahun 2026, Rehan telah menerima sekitar 25 sertifikat penghargaan dari berbagai instansi, termasuk NASA. Ia bahkan masuk dalam Hall Of Fame NASA karena berhasil menemukan kerentanan di sistem mereka melalui program Vulnerability Disclosure Program (VDP).

Selain sertifikat, Rehan juga mendapatkan fee dari beberapa proyek bug hunting. Meskipun gaji di dalam negeri jarang, ia pernah mendapatkan bayaran sebesar 300 dolar dari sayembara di luar negeri. Meski tidak selalu mendapat imbalan finansial, Rehan tetap antusias dan ingin terus belajar serta mengakses kerentanan di level yang lebih tinggi.

Dukungan dari orang tua dan guru sangat berpengaruh dalam perkembangan Rehan. Ayahnya, seorang kuli bangunan, dan ibunya, ibu rumah tangga, selalu mendukungnya dengan memberikan fasilitas seperti handphone baru agar bisa terus berburu celah keamanan. Rehan juga menjadi satu-satunya anak dari dua bersaudara yang terjun ke dunia siber.

Saat ini, Rehan sedang menjalani masa gap year setelah lulus SMK. Aktivitasnya sehari-hari masih diisi dengan membantu orang tua dan berburu celah keamanan sambil belajar bersama komunitas. Ia bercita-cita melanjutkan kuliah di bidang Teknik Informatika dan ingin menjadi bagian dari tim siber kepolisian.

Sosok Lain: Alexsandro Alvino, Hacker Etis Pertama Asal Indonesia yang Masuk NASA

Selain Aan Rehan, ada juga sosok lain yang mendapatkan apresiasi dari NASA. Alexsandro Alvino, siswa SMA di Riau, menjadi hacker etis pertama asal Indonesia yang berhasil meraih sertifikat penghargaan dari NASA. Ia merupakan siswa kelas 12 SMA Metta Maitreya di Riau.

Minat Alex pada cybersecurity bermula dari larangan orang tuanya untuk bermain game. Hal ini justru membuatnya mencari kegiatan produktif, sehingga ia mulai belajar coding dan memperluas minatnya ke dunia keamanan siber.

Setelah mengetahui tren kecerdasan buatan (AI) dan potensi karier di bidang ini, Alex langsung mengikuti program resmi NASA bernama Vulnerability Disclosure Program (VDP).

Dalam waktu sebulan, Alex berhasil menemukan tiga kerentanan dalam sistem NASA yang dikategorikan sebagai level P4. Temuan ini tidak hanya membantu NASA memperbaiki sistem, tetapi juga membuat namanya tercatat dalam platform Crowd Stream NASA bersama para ahli keamanan siber dari berbagai belahan dunia. Saat ini, Alex dipercaya untuk melakukan audit sistem dan mendapatkan pendapatan dari hasil temuannya.

Meski sudah mendapatkan proyek dan penghasilan, Alex tetap memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ia merasa kemampuannya masih perlu diasah dan ingin terus belajar. Menurutnya, di atas langit masih ada langit, dan ia harus terus berkembang.