Penemuan Seni Cadas Tertua di Dunia di Pulau Muna
JAKARTA – Sebuah temuan penting dalam sejarah seni manusia baru-baru ini ditemukan di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Lukisan yang ditemukan ini berusia sekitar 67.800 tahun dan menjadi seni cadas tertua yang pernah diketahui.
Temuan ini menunjukkan bahwa seni simbolik manusia modern telah berkembang jauh lebih awal dari yang sebelumnya dipikirkan.
Temuan ini diungkap oleh tim peneliti internasional yang terdiri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, dan Southern Cross University, Australia. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”.
Adhi Agus Oktaviana, peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, menjelaskan bahwa usia minimum seni cadas di Pulau Muna ini lebih tua 16.600 tahun dibandingkan seni cadas Maros–Pangkep yang sebelumnya ditemukan. Selain itu, cap tangan ini juga lebih tua 1.100 tahun dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.
Sebelumnya, pada Mei 2025, sebuah tim peneliti dari Universidad Complutense de Madrid dan National Research Center on Human Evolution (CENIEH) Spanyol melaporkan temuan batu berbentuk menyerupai wajah yang menyimpan jejak merah.
Jejak tersebut diduga merupakan sidik jari manusia tertua dan berusia sekitar 43.000 tahun. Para peneliti menganggap jejak merah ini sebagai salah satu objek simbolik paling awal yang ditemukan di Eropa.
Penentuan usia seni cadas di Leang Metanduno dilakukan dengan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua. Hasil analisis menunjukkan umur 71,6 ± 3,8 ribu tahun, yang memberikan batas usia minimum sebesar 67,8 ribu tahun bagi cap tangan tersebut.
Adhi menambahkan bahwa temuan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern. Temuan ini disebut sebagai seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal, sekaligus menjadi bukti bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu.
Selain itu, temuan ini juga menegaskan bahwa Wallacea bukan hanya jalur migrasi menuju Australia, melainkan ruang hidup utama bagi manusia modern awal. Adhi menyatakan, “Sangat mungkin pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia.”
Lebih lanjut, temuan ini memperkuat model kronologi panjang yang menyatakan manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia–Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu. Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu.
Penelitian ini juga memberikan bukti tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan penjelajahan laut antara Kalimantan (Borneo) dan Papua, wilayah yang hingga kini masih relatif kurang dieksplorasi secara arkeologis.
Salah satu peneliti utama, Maxime Aubert, menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia, dengan akar dari fase paling awal hunian manusia di kawasan tersebut.
Sementara itu, Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), Griffith University, menyampaikan bahwa cap tangan di Pulau Muna memiliki ciri unik secara global.
Modifikasi yang mempersempit bentuk jari membuatnya menyerupai cakar, mencerminkan ekspresi simbolik yang matang. Menurutnya, makna simbolik dari penyempitan bentuk jari ini masih bersifat spekulatif.
“Namun, seni ini bisa saja melambangkan gagasan manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat erat. Hal tersebut sudah mulai terlihat dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk setidaknya satu adegan yang kami tafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan,” katanya.








