Mengapa Seseorang Bisa Ramah ke Orang Lain Tapi Mudah Marah ke Keluarga Sendiri?
JAKARTA – Banyak orang pernah mengalami situasi di mana seseorang tampak ramah dan sabar kepada orang asing, tetapi mudah marah saat berada di rumah bersama keluarga. Fenomena ini sering menjadi topik diskusi di media sosial, terutama setelah unggahan di Instagram yang memperkenalkan pertanyaan menarik tentang perilaku tersebut.
Unggahan itu memicu banyak respons dari netizen. Beberapa mengungkapkan rasa bingung, sedih, atau bahkan merasa bahwa mereka sendiri memiliki pola seperti itu. Misalnya, seorang pengguna menulis, “Gue bingung.
Punya luka apa dulu sampai segitunya marah ke anak?” Sementara yang lain menyampaikan, “Yang paling sedih itu kita yang jadi sasarannya. Terus disalahkan tanpa sebab jelas.” Bahkan ada yang mengakui, “Aku banget sih ini. Tolong pengen keluar dari sikap jahat itu.”
Lalu, mengapa seseorang bisa begitu ramah kepada orang lain, namun justru mudah meledak emosinya di rumah sendiri? Berikut beberapa kemungkinan penyebab yang dijelaskan oleh psikolog klinis Adityana Kasandra Putranto.
1. Keluarga sebagai Zona Aman Emosional
Menurut Adityana, salah satu alasan utama adalah karena keluarga dianggap sebagai zona aman secara emosional. Di luar rumah, seseorang cenderung menahan diri karena takut ditolak, dihakimi, atau kehilangan hubungan. Akibatnya, emosi yang terpendam sering kali dilepaskan di rumah.
“Di luar rumah, kita cenderung menahan diri karena takut ditolak, dihakimi, atau kehilangan relasi. Akibatnya, emosi terpendam sering kali dilepaskan di rumah,” jelas Adityana. Dengan kata lain, seseorang merasa keluarga tidak akan meninggalkannya, sehingga merasa bebas mengekspresikan emosi, termasuk kemarahan.
2. Peran Sosial vs Identitas Asli
Saat berinteraksi dengan orang lain, seseorang biasanya mengenakan ‘topeng sosial’, yakni bersikap ramah, sopan, dan sabar untuk menjaga citra serta harmoni. Namun di rumah, topeng itu dilepas.
“Individu menunjukkan dirinya apa adanya, termasuk sisi yang lelah, kesal, atau frustrasi,” jelas Adityana. Ini menunjukkan bahwa di lingkungan yang lebih privat, seseorang lebih mudah menunjukkan sisi asli dirinya, termasuk emosi negatif yang biasanya disembunyikan.
3. Ekspektasi Tinggi Terhadap Keluarga
Orang cenderung memiliki harapan lebih besar terhadap keluarga dibandingkan terhadap orang lain. Jika pasangan, orang tua, atau anak tidak sesuai ekspektasi, kita lebih mudah marah. Sementara orang luar tidak mendapat tekanan harapan sebesar itu.
“Kalau pasangan, orang tua, atau anak tidak sesuai ekspektasi, kita lebih mudah marah. Sementara orang luar tidak mendapat tekanan harapan sebesar itu,” ujar Adityana. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya ekspektasi terhadap keluarga bisa memicu kekecewaan dan kemarahan.
4. Budaya “Menjaga Muka”
Faktor budaya juga turut berperan dalam fenomena ini. Adityana menjelaskan, budaya Indonesia kuat untuk menghormati orang luar, seperti halnya anggapan bahwa tamu adalah raja. Namun ketika di dalam rumah, batasan sopan santun sering kendur dengan pikiran bahwa “Ah, kan keluarga sendiri.”
Ini mencerminkan bahwa di luar rumah, seseorang lebih waspada untuk menjaga citra, sementara di rumah, batasan-batasan tersebut lebih longgar.
5. Akumulasi Stres Harian
Setiap hari, seseorang mungkin menahan emosi di tempat kerja, di jalan, atau di lingkungan sosial. Ketika pulang ke rumah, semua beban itu dilepaskan. “Hubungan dengan keluarga adalah tempat paling aman untuk mengekspresikan emosi, termasuk yang negatif,” kata Adityana.
Karena merasa diterima tanpa syarat, seseorang jadi menurunkan kontrol emosi di rumah. Di sisi lain, di ruang publik, tekanan sosial untuk menjaga citra membuat regulasi emosi lebih terjaga.
Pola yang Ditiru Sejak Kecil
Selain itu, perilaku ini juga bisa dipengaruhi oleh pola yang ditiru sejak kecil. Jika seseorang tumbuh di keluarga yang sering mengekspresikan kemarahan secara bebas, pola itu bisa terbawa sampai dewasa.
Dengan memahami alasan-alasan ini, kita bisa lebih peka terhadap perilaku diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita. Kesadaran akan emosi dan cara mengekspresikannya bisa menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih harmonis dan saling menghargai.












