Perkembangan Terbaru dalam Negosiasi Nuklir Iran
JAKARTA – Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengalami pergeseran signifikan setelah serangan gabungan yang dilakukan oleh kedua negara terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu. Serangan tersebut bertujuan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, meskipun Iran secara berulang menyangkal tudingan ini.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa setiap kesepakatan yang terkait dengan program nuklir Iran harus sepenuhnya menghapus kemampuan Teheran untuk memperkaya uranium. Pernyataan ini disampaikan menjelang putaran kedua pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa.
Sebelumnya, negosiasi awal telah digelar di Oman pada awal bulan ini. Kini, para pihak kembali berkumpul untuk mencari solusi yang dapat mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Persyaratan Netanyahu untuk Kesepakatan
Netanyahu menyatakan skeptis terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan, tetapi jika perjanjian itu terwujud, ia menegaskan tiga syarat utama harus dipenuhi. Pertama, semua material yang diperkaya harus meninggalkan Iran. Kedua, tidak boleh ada kemampuan pengayaan, bukan sekadar menghentikan prosesnya, tetapi membongkar seluruh peralatan dan infrastruktur yang memungkinkan mereka memperkaya uranium. Ketiga, program rudal balistik Iran harus dimasukkan dalam kesepakatan.
Ia juga menyampaikan tuntutan tersebut langsung kepada Presiden AS, Donald Trump, dalam pertemuan mereka pekan lalu. Meski Trump belum mengambil keputusan definitif terkait arah negosiasi, ia tetap bersikeras bahwa dialog dengan Teheran harus dilanjutkan untuk melihat kemungkinan tercapainya kesepakatan.
Tekanan dari Pihak AS
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengirim armada militer ke Timur Tengah dan mengancam serangan lanjutan jika Teheran menolak kesepakatan mengenai program nuklir dan rudalnya. Bahkan, muncul laporan bahwa militer AS telah diperintahkan menyiapkan operasi jangka panjang jika perundingan gagal.
Di sisi lain, Iran tetap bersikukuh bahwa program rudalnya adalah “garis merah” dan tidak dapat dinegosiasikan. Teheran juga menolak tuntutan nol pengayaan uranium dengan alasan program tersebut diperlukan untuk keamanan energi nasional.
Peluang Kompromi dari Pihak Iran
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, dalam wawancara dengan BBC pada Minggu, membuka peluang kompromi. Ia menyebut Iran dapat mempertimbangkan pengenceran uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen, asalkan Washington mencabut sanksi yang telah lama diberlakukan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui unggahan di platform X pada Senin, menyatakan dirinya tiba di Jenewa dengan “ide nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan setara.” Ia menegaskan bahwa apa yang tidak ada di meja adalah penyerahan di bawah ancaman. Teheran juga menyatakan siap menghadapi konfrontasi militer jika jalur diplomasi runtuh.
Kekhawatiran dan Harapan Dunia
Ketegangan antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran kini kembali meningkat, sementara dunia menanti hasil perundingan yang dapat menentukan arah stabilitas kawasan Timur Tengah. Dengan begitu banyak isu yang terlibat, perundingan ini menjadi titik penting dalam upaya menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan yang penuh tantangan ini.












