Teringat Mendiang Sukirso, Bupati Paramitha Bikin Warga Salem Brebes Terdiam

BREBES – Di halaman rumah milik mendiang Sukirso, ratusan warga duduk berderet, sebagian berbincang pelan, sebagian lain menunggu dengan khidmat. Namun suasana yang mengalir bukan sekadar hangatnya ngabuburit Ramadan, melainkan haru yang nyaris tak terbendung.

Di tengah kerumunan itu, Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma berdiri dengan suara yang sempat tertahan, Senin (16/3/2026). Ia mencoba melanjutkan sambutannya, tetapi kenangan yang datang bertubi-tubi membuatnya beberapa kali berhenti. Tangannya berulang kali mengusap air mata.

Nama Sukirso disebutnya dengan nada yang tak lagi formal. Bukan sekadar kolega politik, melainkan sosok yang ia kenal dekat sejak kecil hingga kini sebagai penghubung nyata antara pemerintah dan masyarakat kecil di Brebes selatan.

“Beliau selalu hadir… bahkan sebelum kita diminta,” kata Paramitha lirih.

Bagi Paramitha, Sukirso bukan hanya anggota DPRD. Ia adalah figur yang, dalam banyak kesempatan, memilih turun langsung ke lapangan, menyerap keluhan warga, mengawal bantuan, hingga memastikan aspirasi tidak berhenti di meja birokrasi.

Dalam ingatannya, Sukirso adalah tipe politisi yang tak menunggu sorotan. Kesedihan yang tampak sore itu terasa jujur, nyaris tanpa jarak antara jabatan dan perasaan. Di hadapan warga, Paramitha tak sedang berbicara sebagai kepala daerah, melainkan sebagai seseorang yang kehilangan rekan seperjuangan.

Warga yang hadir pun seolah mengamini. Beberapa mengangguk pelan, lainnya menunduk. Nama Sukirso bukan asing bagi mereka. Ia adalah wajah yang kerap muncul dalam urusan-urusan kecil, jalan desa, bantuan sosial, hingga sekadar mendengar keluhan.

Momentum itu menjadi semacam ruang bersama untuk mengenang, bahwa kehadiran seorang wakil rakyat bisa begitu membekas ketika dijalani dengan kedekatan.

Di sela suasana duka, kegiatan tetap berjalan. Sebanyak 450 paket sembako dibagikan kepada warga Salem. Bantuan itu bukan sekadar rutinitas Ramadan, melainkan simbol kesinambungan kepedulian yang selama ini diperjuangkan almarhum.

Paramitha menyebut, warisan terbesar Sukirso bukanlah jabatan atau proyek, melainkan cara ia memaknai pengabdian. Ia berharap semangat itu tidak berhenti pada kenangan, tetapi diteruskan oleh generasi pejabat berikutnya.