Wajarkah Harga Baterai Tesla Lebih Mahal daripada Mobil Bekas?

Biaya Penggantian Baterai yang Mengkhawatirkan pada Mobil Listrik

JAKARTA – Mobil listrik sering kali dianggap sebagai solusi masa depan transportasi karena akselerasinya yang cepat, kebisingan yang rendah, serta biaya operasional harian yang lebih murah dibandingkan kendaraan konvensional.

Namun, di balik segala keunggulan tersebut, terdapat risiko finansial yang besar, khususnya ketika komponen utama seperti baterai mulai mengalami penurunan performa atau kerusakan permanen.

Sebuah kasus nyata yang dialami oleh pemilik Tesla Model S tahun 2013 di Amerika Serikat menjadi peringatan bagi pengguna mobil listrik tentang biaya perawatan jangka panjang.

Estimasi biaya dari pusat layanan resmi menunjukkan bahwa harga penggantian baterai bisa mencapai dua kali lipat dari nilai jual kendaraan itu sendiri di pasar mobil bekas.

Estimasi Biaya Penggantian Baterai yang Fantastis

Berdasarkan laporan yang diterbitkan, pengguna Tesla Model S lawas menerima rincian biaya penggantian baterai yang sangat tinggi. Untuk mengganti paket baterai standar kapasitas 60 kWh, Tesla mematok harga total sebesar 13.830 dolar AS (sekitar Rp231,5 juta).

Biaya ini terdiri dari harga unit baterai sebesar Rp221,8 juta dan jasa pemasangan yang hanya memakan waktu kurang dari tiga jam. Angka ini terasa sangat berat mengingat baterai 60 kWh adalah varian terkecil yang pernah diproduksi oleh Tesla untuk model tersebut.

Bagi pemilik mobil yang usianya sudah satu dekade, biaya ini sering kali setara atau bahkan lebih tinggi dari harga pasar mobil itu sendiri. Hal ini membuat pemilik kendaraan berada dalam posisi sulit, di mana biaya perbaikan tidak lagi sebanding dengan nilai aset yang mereka miliki.

Lonjakan Harga untuk Peningkatan Kapasitas Baterai

Situasi menjadi lebih ekstrem jika pemilik kendaraan ingin melakukan peningkatan (upgrade) ke kapasitas baterai yang lebih besar, yaitu 90 kWh. Untuk opsi ini, biaya baterainya saja dibanderol sebesar 18.000 dolar AS (Rp301,35 juta).

Itu belum termasuk biaya tambahan sebesar 4.500 dolar AS (Rp75,3 juta) hanya untuk membuka akses kapasitas penuh melalui perangkat lunak. Jika ditotal dengan komponen pendukung dan jasa pemasangan, biaya keseluruhan mencapai 23.262 dolar AS (setara Rp389,45 juta).

Jumlah fantastis ini hampir dua kali lipat dari harga pasar Tesla Model S tahun 2013 yang saat ini umumnya dijual di kisaran 10.000 hingga 15.000 dolar AS (Rp167 juta hingga Rp251 juta).

Secara finansial, melakukan upgrade pada mobil tua tersebut dianggap tidak rasional karena dana yang dikeluarkan jauh melampaui harga jual kembali kendaraan setelah diperbaiki.

Solusi Pihak Ketiga dan Masa Depan Nilai Kendaraan Listrik

Meskipun banyak pemilik Tesla berhasil mencapai jarak tempuh ratusan ribu kilometer tanpa kendala baterai, degradasi tetap menjadi tantangan yang tak bisa dihindari. Bagi mereka yang menghadapi masalah serupa, selain membeli baterai resmi dari Tesla, ada opsi penyedia pihak ketiga yang menawarkan harga lebih kompetitif.

Namun, biaya yang dikeluarkan untuk pemasangan baterai pada mobil listrik berusia sepuluh tahun ke atas sering kali dianggap tidak sepadan dengan nilai ekonomi kendaraan. Dengan semakin meningkatnya penggunaan mobil listrik, isu biaya perawatan jangka panjang akan semakin relevan.

Pemilik kendaraan perlu mempertimbangkan biaya penggantian baterai sejak awal, karena hal ini bisa memengaruhi nilai jual dan keberlanjutan penggunaan kendaraan. Dalam jangka panjang, inovasi teknologi dan peningkatan efisiensi produksi baterai dapat menjadi solusi untuk mengurangi beban finansial bagi pengguna mobil listrik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *