“Sejak Sabtu-Minggu hanya di kamar tidak ceria seperti biasanya. Makan juga saya anterin ke kamar,” ucapnya.
Kemudian saat Senin 11 Agustus 2025 dini hari, korban keluar kamar dipapah kakaknya untuk ke toilet, Siti mengatakan saat itu ia sedang memasak mie instan. “Saat itu saya sedang memasak mie instan di dapur, saat almarhum sampai di samping saya hampir jatuh kemudian saya rangkul dan antar ke toiler,” ungkapnya.
Usai dari toilet, kemudian korban duduk di ruang tamu. Karena masih penasaran, Siti lantas kembali menanyakan kembali ke anaknya itu. “Saya tanyain sambil nangis kamu kenapa. Kemudian almarhum mengatakan, saya mau ngomong tapi ibu jangan marah, saya dipukulin sama teman di sekolahan. Saya diancem jangan ngomong sama siapa-siapa,” tuturnya.
Senin pagi hari korban sempat kejang, kemudian siti memutuskan untuk diperiksakan ke Puskesmas. Namun puskesmas menolak dan petugas puskesmas meminta agar pasien langsung dirawat di rumah sakit karena kondisinya yang lemah.
“Baru sampai di depan puskesmas, kemudian puskesmas menolak, meminta agar langsung di bawa ke rumah sakit saja,” kata Siti.
Korban akhirnya mendapatkan perawatan medis di RS Harapan Sehat Jatibarang. Korban sempat dirawat di RS selama 1 hari, usai terombositnya menurun kemudian pada Selasa 12 Agustus 2025 petang korban dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.
“Saya sempat tanya ke petugas medis, hasil pemeriksaan seperti apa, ternyata selain DBD, ada patah tulang juga di tangan,” jelasnya.
Siti menyebut, ada empat nama yang disebutkan anaknya yang melakukan bullying pada anaknya itu. Beberapa hari berselang setelah kepergian korban, kemudian keluarga terduga pelaku dan sekolah datang ke rumah duka.
Kedua belah pihak kemudian dimediasi oleh pihak sekolah. Dalam mediasi itu, pihak sekolah menyarankan memberikan uang damai namun ditolak oleh keluarga korban.
“Sempat ada mediasi dengan pihak sekolah dan keluarga terduga pelaku, keluarga terduga pelaku menawarkan dari Rp 5 juta kemudian Rp 10 juta per anak, tapi saya menolak, karena saya ingin lanjut ke jalur hukum,” katanya.
Beranda
Headline
Anak Meninggal Karena Bullying di Sekolah di Brebes, 3 Bulan Lapor Belum ada Perkembangan Kasus
Anak Meninggal Karena Bullying di Sekolah di Brebes, 3 Bulan Lapor Belum ada Perkembangan Kasus
Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

Ditambahkan, meskipun melibatkan personel gabungan yang cukup besar, pendekatan yang diambil tetap bersifat edukatif. Petugas…

Kapolres juga menyoroti terbentuknya Hadroh Santri Brambang sebagai pilar aksi syiar Islam melalui seni. Menurutnya,…










