Grit dan IQ: Kunci Sukses yang Saling Melengkapi
JAKARTA – Grit, yang merupakan kombinasi antara passion (kecintaan) dan ketekunan jangka panjang, sering dianggap sebagai faktor penting dalam kesuksesan seseorang. Dalam sebuah unggahan di media sosial, disebutkan bahwa grit bisa lebih berperan daripada kecerdasan intelektual (IQ). Unggahan tersebut menjelaskan bahwa grit bukan sekadar semangat sesaat, melainkan kemampuan untuk terus melangkah meski tidak ada dukungan dari orang lain.
Anak-anak yang memiliki grit akan tetap bergerak meskipun mengalami kegagalan berkali-kali. Hal ini menunjukkan bahwa ketekunan dan motivasi internal sangat penting dalam mencapai tujuan. Namun, pertanyaannya adalah apakah grit benar-benar lebih menentukan keberhasilan dibandingkan IQ?
Pentingnya Grit dan IQ bagi Anak-Anak
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Soegijapranata Semarang, Christine Wibowo, menjelaskan bahwa grit dan IQ bukanlah hal yang berdiri sendiri, melainkan kombinasi yang saling melengkapi. Menurutnya, grit merupakan “kemasan baru” dari keharusan seseorang untuk memiliki ketekunan, motivasi, dan konsistensi dari dalam diri untuk meraih prestasi.
Secara harfiah, kata grit berasal dari bahasa Inggris yang berarti “pasir”, “kerikil”, atau “batu kecil”, yang kemudian bergeser makna menjadi keuletan dan resiliensi. Bagi anak-anak, grit dan IQ memiliki peran yang sama pentingnya. Orang tua dan guru perlu memahami di mana letak kecerdasan anak, lalu mengajarkan grit agar anak mampu bertahan dan termotivasi secara konsisten.
Christine menegaskan bahwa memberikan grit tanpa memperhatikan IQ justru bisa membuat anak frustrasi. Misalnya, seorang anak tidak bisa berenang, tapi terus diberi motivasi bahwa dia bisa berenang. Anak mungkin mencoba, tetapi pada akhirnya bisa frustrasi. Oleh karena itu, IQ dibutuhkan untuk melihat potensi dan kemampuan kognitif anak, sementara grit membantu anak tetap tekun mencapai tujuannya.
Jika dibarengi dengan gairah atau passion, kekuatan grit akan semakin besar.
Grit dan IQ untuk Orang Dewasa di Era AI
Christine juga menyoroti pentingnya kombinasi IQ dan grit bagi orang dewasa, terutama di era kecerdasan buatan (AI). Ia menyebut, IQ dan grit amat diperlukan untuk para pekerja tetap bertahan di era AI. Menurut Christine, pekerjaan yang tidak terkait dengan “konsep” berpotensi digantikan oleh kecerdasan buatan.
Orang dewasa yang memiliki IQ rendah sulit untuk bekerja di bidang-bidang yang terkait dengan konsep. Padahal, sebentar lagi pekerjaan yang terlalu teknis, terlalu praktis, akan digantikan oleh robot dan AI. Contoh pekerjaan yang berkaitan dengan konsep seperti halnya membuat suatu program atau mengajar. Namun, menurut Christine, IQ atau grit saja tidak cukup.
“Hanya IQ saja tidak cukup, harus ada Grit, Grit juga harus ada IQ, dua-duanya penting,” tegasnya. Bagi orang yang tidak memiliki IQ tinggi, Christine menyarankan untuk mencari hobi atau kemampuan yang paling menonjol. Mereka harus dicarikan hobi atau kemampuan yang paling menonjol, lalu dijadikan spesialis.
Christine menambahkan bahwa sejak kecil, seseorang sudah harus distimulasi dengan kelebihan tersebut. Misalnya, seseorang yang memiliki IQ kurang tapi pandai bermain basket, maka skill bermain basket harus didorong hingga menjadi sangat mahir. Harus di-push sampai mahir bermain basket. Misal sudah usia dewasa, orang tersebut dapat menjadi pelatih basket, membuat program basket, dan sebagainya. Jadi difokuskan pada yang paling dia bisa, yang paling dia mampu.
Christine juga menambahkan bahwa orang dengan IQ rendah tetap bisa bertahan dan bersaing di perkembangan teknologi saat ini, namun usaha tersebut mungkin harus lebih besar dibanding orang dengan IQ tinggi. Grit-nya juga harus bisa dilatih, jadi semuanya oke. Usahanya harus lebih besar dibanding orang yang IQ-nya bagus.












