Ikan Sapu-Sapu Mengancam Perairan Jakarta
JAKARTA – Di tengah keramaian kota Jakarta, terdapat ancaman yang tidak selalu terlihat. Sungai-sungai di berbagai titik ibu kota kini dihuni oleh populasi ikan sapu-sapu yang menguasai sekitar 60 persen perairan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ekosistem air di Jakarta.
Awal Mula Keberadaan Ikan Sapu-Sapu
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menjelaskan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu bukanlah hal baru. Menurutnya, munculnya spesies ini bermula dari tren ikan hias yang populer pada awal tahun 2000-an. Ikan ini dipelihara untuk membersihkan akuarium atau kolam karena kemampuannya memakan organik.
“Awal muasalnya ketika terjadi booming ikan hias di awal 2000-an. Ikan sapu-sapu ini dipelihara untuk membersihkan akuarium atau kolam karena kemampuannya memakan organik. Berarti sudah 26 tahun yang lalu kurang lebih,” ujar Hasudungan.
Penyebab Penyebaran Ikan Sapu-Sapu
Seiring dengan menurunnya tren memelihara ikan hias, banyak masyarakat melepas ikan sapu-sapu ke perairan umum. Hal ini meningkatkan jumlah populasi mereka. Hasudungan menyatakan bahwa kemampuan adaptasi ikan sapu-sapu sangat tinggi.
“Sekarang tren hobi ikan sudah berkurang, sehingga banyak yang dilepas ke sungai. Padahal, kemampuan adaptasi mereka sangat tinggi,” katanya.
Asal Usul Ikan Sapu-Sapu
Hasudungan menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang berasal dari luar Indonesia, terutama Amerika Selatan. Mereka mampu bertahan hidup bahkan di perairan yang tercemar limbah.
“Tapi ternyata kemampuan mereka yang sangat tinggi untuk beradaptasi di perairan umum walaupun kondisinya banyak mengandung logam berat, limbah, sungai-sungai. Kemudian mereka memakan lumut, telur-telur ikan, itu mereka bisa berkembang biak,” jelasnya.
Kemampuan Berkembang Biak yang Tinggi
Salah satu alasan utama penyebaran ikan sapu-sapu adalah kemampuan reproduksi yang sangat tinggi. Hasudungan menyebutkan bahwa sekali bertelur, ikan ini bisa menghasilkan antara 1.500 hingga 2.000 telur dalam satu siklus reproduksinya. Dan dalam setahun, siklus reproduksi bisa terjadi hingga lima kali.
“Dan dalam setahun, siklus reproduksi bisa sampai 5 kali. Jadi bisa dibayangkan. Sudah mereka tidak ada predator alami mereka juga mampu untuk hidup, adaptasi tinggi, kemampuan reproduksi yang sangat tinggi,” tambahnya.
Upaya Pengendalian Ikan Invasif
Hasudungan menegaskan bahwa pengendalian ikan invasif telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020. Dinas KPKP rutin melakukan pengawasan terhadap penjualan ikan hias untuk mencegah peredaran spesies invasif.
“Jadi sekarang di tempat penjualan ikan hias itu tidak ada lagi yang menjual ikan sapu-sapu, kita lebih ke arah ikan-ikan invasif lainnya, seperti ikan arapaima, kemudian ikan aligator, red devil, ikan oscar, kemudian ikan louhan. Nah, kita awasi, kalau ditemukan menjual dan tidak ada izin, itu kita musnahkan karena sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2020 tentang Pengendalian Ikan Invasif tersebut,” ujarnya.








