Anak SD Meninggal di Asrama Akibat Bullying, Awalnya Diduga Masuk Angin

Siswa SD Tewas di Lingkungan Asrama, Kecurigaan Terhadap Perundungan Muncul

JAKARTA – Kasus kematian seorang siswa SD di lingkungan asrama Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Nurul Falah, Wonogiri, menjadi perhatian masyarakat. Korban berinisial DRP (11) awalnya dikabarkan meninggal karena masuk angin, namun keluarga menemukan beberapa kejanggalan hingga akhirnya kasus ini diteliti lebih lanjut oleh pihak kepolisian.

Hasil penyelidikan menunjukkan dugaan adanya perundungan dan kekerasan fisik yang terjadi di sekolah. Tragisnya, baik korban maupun pelaku sama-sama masih anak-anak. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi orangtua, sekolah, serta lingkungan pendidikan untuk lebih serius memperhatikan keamanan dan kesehatan mental anak.

Siswa Kelas 5 Tewas di Sekolah

Peristiwa menyedihkan ini menimpa seorang anak laki-laki berinisial DRP (11), siswa kelas V SD Nurul Falah yang berada di lingkungan PPTQ Nurul Falah, Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri. Korban dilaporkan meninggal dunia pada hari Sabtu, 14 Februari 2026 lalu.

Awalnya, penyebab kematian DRP disimpulkan sebagai masuk angin. Namun, banyak kejanggalan dari sana hingga akhirnya kasus ini diselidiki lagi. Diduga DRP tewas karena menjadi korban kekerasan di dalam ruang kelas saat jam pergantian pelajaran.

Kasus ini menjadi sorotan publik karena melibatkan anak di bawah umur baik sebagai korban maupun pelaku. Penyelidikan kepolisian segera dilakukan setelah pihak keluarga merasa ada yang tidak wajar dengan kondisi jenazah korban.

Pemicu Sepele: Saling Ejek Nama Orangtua

Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, konflik antara korban dan pelaku yang berinisial R (11) dipicu oleh masalah yang tergolong sepele bagi anak-anak, yakni saling ejek nama orangtua. Selain mengejek nama orangtua, keduanya juga terlibat saling gurau dengan cara dijodoh-jodohkan dengan teman perempuan sekelas mereka.

Ejekan yang semula dianggap main-main tersebut kemudian berubah menjadi pertengkaran serius di dalam ruang kelas yang saat itu sedang tidak ada guru. Meskipun sempat ada tiga orang teman sekelas yang mencoba melerai, perkelahian fisik antara DRP dan R (terduga pelaku saat itu) tetap tidak terhindarkan.

Kronologi Kekerasan Fisik yang Terjadi

Kekerasan terjadi dengan sangat cepat di mana pelaku R menjegal korban hingga terjatuh dan menyebabkan kepalanya membentur lantai kelas. Tidak berhenti di situ, dalam kondisi korban terjatuh, pelaku diduga menindih tubuh korban, mencekik, serta mendorong kepala korban kembali ke lantai.

Pasca kejadian tersebut, kondisi kesehatan DRP menurun drastis. Ia sempat mengeluh pusing dan mengalami muntah sebanyak tiga kali di ruang wudhu dan kamar mandi. Pihak sekolah sempat membawa korban ke klinik terdekat, namun nyawanya tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Alasan ‘Masuk Angin’ Hingga Dilakukan Ekshumasi Makam

Hal yang sempat memicu kemarahan keluarga adalah pernyataan awal dari pihak sekolah yang menyebutkan bahwa DRP meninggal dunia karena masuk angin. Namun, keluarga menemukan kejanggalan saat melihat jenazah mengeluarkan darah dari hidung dan mulut serta adanya busa, padahal korban berangkat sekolah dalam kondisi sehat tanpa riwayat penyakit.

Guna mengungkap penyebab pasti kematian secara ilmiah, Polres Wonogiri melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam korban di Makam Prayan, Desa Conto pada Selasa, 17 Februari 2026 lalu. Tim forensik dari RS Bhayangkara Polda Jawa Tengah dilibatkan untuk melakukan otopsi guna memastikan apakah kekerasan fisik tersebut merupakan penyebab utama kematian.

Status Pelaku dan Evaluasi Dunia Pendidikan

Polisi akhirnya resmi menetapkan R sebagai anak yang berkonflik dengan hukum (pelaku) setelah adanya bukti-bukti yang cukup dan pengakuan dari yang bersangkutan. Mengingat usia pelaku masih 11 tahun, ia kini dititipkan di Yayasan Pembinaan Anak Nakal (YPAN) Solo untuk menjalani pembinaan selama tiga bulan sesuai dengan aturan perlindungan anak.

Tragedi ini memicu reaksi keras dari Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, yang menyayangkan mengapa kejadian tersebut tidak segera dilaporkan secara jujur kepada pihak berwajib. Beliau memerintahkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk melakukan evaluasi menyeluruh serta meningkatkan edukasi karakter agar tindakan perundungan atau bullying serupa tidak terulang kembali di lingkungan sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *