Memahami Kapan Pernikahan Sebaiknya Dipertahankan atau Diakhiri
JAKARTA – Pernikahan adalah hubungan yang penuh tantangan dan dinamika. Terkadang, pasangan menghadapi situasi yang membuat mereka meragukan apakah hubungan tersebut layak dipertahankan atau justru harus diakhiri.
Psikolog klinis Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa tidak ada ukuran pasti dalam menentukan keputusan ini. Setiap hubungan memiliki dinamika sendiri, dan keputusan untuk bertahan atau berpisah bergantung pada kondisi masing-masing pasangan.
Ibarat Rumah: Sepuluh Pilar dalam Pernikahan
Winona menggambarkan pernikahan sebagai rumah yang berdiri di atas sepuluh pilar utama. Setiap pilar memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas hubungan. Untuk menilai kekuatan hubungan, pasangan perlu memeriksa kondisi masing-masing pilar. Berikut sepuluh pilar tersebut:
- Kepribadian: Kecocokan karakter dan gaya hidup antara pasangan.
- Komunikasi: Seberapa terbuka, jujur, dan empatik pasangan dalam berinteraksi.
- Resolusi Konflik: Cara pasangan menghadapi dan menyelesaikan perbedaan.
- Masalah Finansial: Pengelolaan dan kesepakatan soal keuangan.
- Hobi dan Kualitas Diri: Kemampuan menjaga waktu pribadi sekaligus waktu bersama.
- Hubungan Seksual: Kesepakatan dan keintiman fisik yang terjaga sehat.
- Gaya Pengasuhan: Kesamaan pandangan dalam mendidik anak.
- Budaya Keluarga dan Lingkungan: Kemampuan beradaptasi dengan keluarga besar.
- Pembagian Peran dalam Rumah Tangga: Siapa yang bertanggung jawab atas apa.
- Nilai Religius: Bagaimana pasangan memaknai hubungan mereka dengan Tuhan.
Menilai Kekuatan Pilar dalam Hubungan
Sebelum mengambil keputusan, pasangan perlu mengevaluasi kondisi setiap pilar secara objektif. Misalnya, jika dua dari sepuluh pilar sudah mulai retak atau hancur, pasangan perlu mempertimbangkan apakah delapan pilar lainnya masih cukup kuat untuk menopang hubungan.
Jika sebagian besar pilar masih kokoh dan bisa diperbaiki, maka pernikahan layak diperjuangkan. Namun, jika banyak pilar yang sudah runtuh dan menyebabkan ketidaknyamanan mendalam, mungkin jalan terbaik adalah berpisah dengan cara yang sehat.
Melepaskan Bukan Selalu Kegagalan
Winona menekankan bahwa perceraian tidak selalu berarti kegagalan. Keputusan untuk melepas bisa menjadi bentuk keberanian seseorang untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraannya.
Meski demikian, ia juga mengingatkan agar pasangan tidak terburu-buru mengambil keputusan. Setiap pasangan perlu meninjau ulang dan menilai dengan jujur apakah hubungan tersebut masih bisa diperbaiki atau tidak.
Pernikahan adalah Proses Pertumbuhan
Pernikahan bukan sekadar tentang bertahan, melainkan juga tentang bagaimana kedua pihak saling tumbuh dan memperkuat pilar-pilar yang menopangnya.
Dengan mengenali sepuluh pilar tersebut, setiap pasangan dapat lebih jernih menilai arah hubungan mereka. Apakah masih bisa diperjuangkan, atau justru sudah saatnya dilepaskan demi kebaikan bersama.
Tips untuk Menghadapi Perceraian
Bagi yang sedang menghadapi perceraian, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Mencari dukungan psikologis: Konsultasi dengan ahli psikologi untuk membantu proses pemulihan.
- Menjaga kesehatan mental: Fokus pada diri sendiri dan lakukan aktivitas yang positif.
- Menghindari pengaruh negatif: Jangan terlalu terpengaruh oleh media sosial atau opini orang lain.
- Mempertimbangkan solusi terbaik: Putuskan dengan bijak, bukan karena emosi semata.
Dengan memahami dinamika pernikahan dan mengambil keputusan yang tepat, pasangan dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan bahagia.












