BEKASI — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SMA Islam Al Azhar 8 Kota Bekasi di kancah internasional. Tim inovator muda yang dipimpin Muhammad Dignity Dzaki berhasil meraih Gold Medal dalam ajang bergengsi World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 18–20 Mei 2026.
Selain Muhammad Dignity Dzaki selaku ketua tim, anggota tim lainnya terdiri atas Narendra Dylan Prana Arlanda, Raden Atilla Jatiwasesa, Raditya Annavi Akbar, dan Kenzie Javas Nararya.
Mereka sukses membawa pulang medali emas melalui inovasi bertajuk GRAHITA-IoT, sebuah alat pendeteksi tingkat stres siswa berbasis Internet of Things (IoT) dengan sistem pemantauan kognitif secara real-time.
Guru pendamping, Asep Dadan Kurniawan, menjelaskan bahwa WYIE merupakan kompetisi inovasi tingkat internasional yang mempertemukan pelajar, mahasiswa, hingga peneliti muda dari berbagai negara untuk mempresentasikan karya teknologi yang mampu menjawab berbagai persoalan di masyarakat.
Menurutnya, inovasi GRAHITA-IoT lahir sebagai respons atas meningkatnya persoalan kesehatan mental dan tekanan akademik di kalangan pelajar.
“Alat ini dirancang dalam bentuk smart band yang mampu mendeteksi kondisi stres pengguna secara real-time melalui pemantauan heart rate variability (HRV) dan indikator fisiologis lainnya,” jelasnya.
Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan sistem cerdas untuk mengidentifikasi tingkat fokus, beban pikiran, hingga potensi stres berlebih pada siswa.
Keunggulan utama GRAHITA-IoT terletak pada kemampuannya melakukan deteksi dini kondisi mental siswa secara praktis dan cepat. Sistem tidak hanya membaca detak jantung, tetapi juga mampu mengklasifikasikan kondisi pengguna seperti optimal focus, optimal load, hingga overload.
Melalui fitur tersebut, guru maupun konselor sekolah diharapkan dapat melakukan pendampingan lebih awal sebelum kondisi stres berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Ketua tim, Muhammad Dignity Dzaki, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari realitas yang sering ditemui di lingkungan sekolah. Banyak siswa mengalami tekanan mental saat proses pembelajaran, namun kesulitan menyampaikan kondisi yang dialami kepada guru.






