“Permasalahan yang dihadapi siswa adalah ketika mereka mengalami stres tetapi tidak bisa menyampaikan kepada guru. Saya berharap melalui alat ini guru dapat mengetahui siswa yang sedang mengalami stres saat pembelajaran tanpa harus siswa menyampaikannya secara langsung,” ujarnya.
Selain membantu pemantauan kondisi psikologis siswa, integrasi teknologi IoT memungkinkan seluruh data tersimpan dan dapat diakses secara real-time sehingga evaluasi kondisi siswa menjadi lebih efektif.
Inovasi tersebut dinilai relevan dengan tantangan pendidikan modern yang kini tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga kesehatan mental peserta didik.
Keberhasilan meraih Gold Medal menjadi bukti bahwa pelajar Indonesia mampu bersaing di tingkat global melalui karya inovatif yang solutif dan memiliki dampak sosial.
Kepala SMA Islam Al Azhar 8 Kota Bekasi, Rizal Pahlefi, turut menyampaikan apresiasi atas kerja keras para siswa dan guru pembimbing yang telah mengharumkan nama sekolah serta Indonesia di forum internasional.
Ia berharap inovasi GRAHITA-IoT dapat terus dikembangkan agar memberikan manfaat lebih luas bagi dunia pendidikan, khususnya dalam mendukung kesehatan mental generasi muda.






