Selain keberhasilan ekspor bawang merah ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina, pemerintah daerah saat ini tengah berupaya membawa produk olahan bawang menembus pasar Eropa.
Menurutnya, sektor pertanian dan produk olahan menjadi identitas yang selalu diperkenalkan kepada para investor yang datang ke Brebes.
“Kalau investor datang ke Brebes, yang pertama saya kenalkan adalah bawang kita. Kedua, makanan-makanan olahan kita,” ujarnya.
Paramitha menegaskan dirinya tidak ingin dianggap hanya hadir tanpa kerja nyata. Karena itu, pemerintahannya yang baru berjalan lebih dari satu tahun saat ini memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang selama puluhan tahun belum tersentuh.
Ia menyebut pemerintah pusat telah memberikan dukungan melalui program Inpres Jalan Daerah untuk perbaikan ruas jalan dengan nilai puluhan miliar.
“Fokus kami hari ini pembangunan infrastruktur. Ruas jalan yang puluhan tahun tidak tersentuh, insyaallah akan mendapat bantuan,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga terus memperjuangkan pembangunan kawasan perbatasan serta mengusulkan proyek giant sea wall sebagai upaya perlindungan wilayah pesisir.
Untuk mempercepat realisasi program tersebut, Paramitha mengaku aktif berkoordinasi dengan kementerian dan pemerintah provinsi.
“Saya bolak-balik ke Jakarta untuk memperjuangkan agar dana pusat bisa turun ke Brebes. Bertemu gubernur juga terus dilakukan agar bantuan pembangunan bisa kita dapatkan,” ungkapnya.
Dialog yang berlangsung di tengah aksi unjuk rasa itu menjadi gambaran bagaimana Paramitha merespons kritik dengan ruang komunikasi terbuka.












