Kelola Sampah Dapur MBG dengan Maggot, TPS Terintegrasi SPPG Jadi Solusi Baru di Brebes

Sampah MBG
Wakil Bupati Brebes, Wurja saat menghadiri acara launching pengelolaan sampah dapur MBG. (Foto: Istimewa)

Menurut Muhaemin, pengolahan sampah menggunakan maggot tidak hanya mampu mengurangi volume limbah secara signifikan, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.

Maggot hasil budidaya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun perikanan sehingga berpotensi membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Berdasarkan perhitungan petugas lapangan Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah (DLHPS) Kabupaten Brebes, sebanyak 200 biopon maggot mampu mengurai hingga 85 persen limbah organik yang dihasilkan dapur-dapur SPPG di Losari.

Saat ini tersedia 32 biopon aktif yang masing-masing diisi satu kilogram bibit maggot dan berpotensi menghasilkan hingga lima kilogram maggot dewasa.

Muhaemin menjelaskan, pembangunan TPS Terintegrasi merupakan bentuk tanggung jawab pengelola dapur SPPG terhadap sampah yang dihasilkan setiap hari. Ia berharap fasilitas tersebut dapat menjadi contoh pengelolaan sampah berkelanjutan yang dapat diterapkan di wilayah lain.

Sementara itu, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Brebes, Arya Dewa Nugroho, menyambut baik hadirnya TPS Terintegrasi berbasis maggot tersebut.

Ia menilai inovasi yang dilakukan paguyuban dapur SPPG di Losari layak menjadi percontohan bagi dapur-dapur SPPG lainnya di Kabupaten Brebes.

“Ini merupakan langkah yang sangat baik dalam mengurangi sampah. Kami berharap model seperti ini dapat ditiru oleh dapur-dapur SPPG lainnya di Brebes,” ujarnya.

Berdasarkan data DLHPS Kabupaten Brebes, volume sampah di Kabupaten Brebes mencapai sekitar 1.300 ton per hari.

Kehadiran TPS Terintegrasi berbasis maggot di Losari diharapkan menjadi salah satu inovasi daerah dalam menekan timbulan sampah organik, mendukung keberlanjutan Program MBG serta mendorong terwujudnya ekonomi sirkular yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.