Sejarah Tragedi Jumat Kelabu yang Masih Terkenang
BANJARMASIN – Sejarah kelam di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, masih terukir dalam ingatan sebagian warga. Peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Jumat Kelabu terjadi pada 23 Mei 1997. Tragedi ini menewaskan 123 orang, melukai 118 orang, dan membuat 179 orang hilang tanpa jejak.
Lokasi kuburan massal korban kerusuhan tersebut berada di kawasan permakaman umum Jalan Ahmad Yani Kilometer 22, Kelurahan Landasanulin Selatan, Kecamatan Lianganggang, Kota Banjarbaru.
Kuburan ini menjadi saksi bisu dari kekacauan yang terjadi di kota tersebut pada masa itu. Banyak jenazah korban dikuburkan dalam satu liang, tanpa adanya daftar nama atau identitas yang jelas. Hingga saat ini, kondisi makam masih tetap dipertahankan, meskipun tidak ada tanda pengenal yang memadai.
Pemeliharaan Makam Massal oleh Relawan
Di tengah kesedihan yang mendalam, ada seorang relawan yang rutin membersihkan lahan makam ini. Nama lengkapnya adalah Sabrianyah, yang lebih akrab disapa Julak Utuh.
Ia mengaku termasuk dari sedikit orang yang pernah menyaksikan proses pemakaman jenazah korban saat itu. Mayoritas jenazah dalam kondisi luka bakar, sehingga sulit untuk mengidentifikasi siapa saja yang dimakamkan.
Julak Utuh menjelaskan bahwa pembersihan rumput di lahan makam dilakukan secara rutin oleh dirinya. Bantuan dari dinas terkait juga diberikan dalam bentuk cairan pembasmi rumput. Tujuannya adalah memberikan kenyamanan bagi para peziarah atau keluarga korban yang sering datang ke tempat ini.
Namun, ia mengungkapkan beberapa kendala dalam melakukan perawatan makam. Area tanah yang rendah menyebabkan genangan air saat musim hujan, sehingga cairan pembasmi rumput tidak bekerja efektif. Selain itu, banyak jenazah yang dimakamkan dalam kondisi hangus, sehingga identitasnya tidak dapat dikenali.
Proses Pemakaman yang Berlangsung Secara Massal
Dari pengalamannya, Julak Utuh menceritakan bagaimana proses pemakaman berlangsung. Saat itu, lubang kubur digali cukup panjang, dan jenazah disusun berjejer. Ia mengatakan bahwa tidak semua orang bisa membedakan jenis kelamin korban karena kondisi jenazah yang sangat rusak.
“Dulu ditabuk memanjang, lalu mayatnya disusun. Tidak tahu siapa karena kondisinya hangus. Yang mana laki-laki, yang mana perempuan tidak tahu,” ujarnya.
Meski mengaku tidak melihat langsung peristiwa kerusuhan Jumat Kelabu, ia tinggal di Banjarbaru hingga saat ini. Selama puluhan tahun menjaga makam massal ini, ia menyebut jarang ada peziarah. Jika ada, biasanya hanya keluarga korban yang percaya bahwa anggota keluarganya dimakamkan di sini.
Pentingnya Pengenalan Identitas Korban
Masalah utama yang masih terjadi adalah ketidakjelasan identitas korban. Banyak keluarga masih mencari kejelasan tentang nasib sanak saudara mereka. Meskipun telah berlalu lebih dari dua dekade, trauma dan rasa ingin tahu tetap menghiasi hati para keluarga korban.
Selain itu, upaya untuk menemukan identitas korban juga sangat penting untuk proses rekonsiliasi dan penyelesaian masalah historis. Dengan adanya data yang akurat, pihak berwenang dapat memberikan penghargaan yang layak kepada korban serta memberikan keadilan bagi keluarga yang masih merindukan kejelasan.
Pemeliharaan makam massal seperti ini bukan hanya tugas fisik, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan terhadap jiwa-jiwa yang gugur dalam peristiwa berdarah tersebut. Semoga ke depan, upaya-upaya pengenalan identitas dan pemulihan sejarah dapat terus dilakukan agar tidak ada lagi korban yang terlupakan.












