Bisnis  

Perhutani Tingkatkan Bisnis Kopi Berkelanjutan, Libatkan Ribuan Petani

Perum Perhutani dan Peran Kopi dalam Pembangunan Berkelanjutan

JAKARTA – Perum Perhutani, sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang kehutanan, terus memperkuat posisinya sebagai penghasil kopi berkualitas dengan menerapkan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Dalam menghadapi meningkatnya minat masyarakat dunia terhadap kopi, Perhutani tidak hanya melihatnya sebagai peluang ekonomi, tetapi juga sebagai sarana untuk menggabungkan kepentingan pelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi hijau.

Salah satu strategi yang diterapkan adalah pemanfaatan kawasan hutan produktif melalui pola agroforestry. Pendekatan ini tidak hanya menjaga kelestarian hutan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dengan sistem ini, budidaya kopi menjadi cara efektif untuk menjaga tutupan hutan sambil membuka sumber penghasilan bagi warga desa hutan.

Direktur Utama Perum Perhutani Tio Handoko menyatakan bahwa pengembangan kopi di bawah tegakan hutan merupakan bentuk nyata dari penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kopi telah menjadi komoditas global yang diminati masyarakat dunia, dan Perhutani hadir untuk memastikan bahwa setiap cangkir kopi yang dinikmati berasal dari sistem kelola hutan yang lestari.

“Lewat skema agroforestry, kita membuktikan bahwa perlindungan hutan dan peningkatan ekonomi masyarakat desa tidak harus saling mengorbankan, melainkan bisa berjalan beriringan,” ujarnya.

Luas Areal dan Produksi Kopi di Kawasan Hutan

Data Perhutani menunjukkan bahwa hingga saat ini, areal tanaman kopi di kawasan hutan yang dikelolanya mencapai 43.143 hektare. Areal tersebut tersebar di 32 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH).

Wilayah Jawa Timur menjadi sentra terbesar dengan luas mencapai 30.365 hektare. Sementara itu, Jawa Barat dan Banten memiliki areal kopi seluas 7.124 hektare, sedangkan Jawa Tengah mencapai 5.685 hektare.

Dari kawasan tersebut, total produksi kopi tercatat mencapai 9.365 ton dengan produktivitas rata-rata sekitar 197 kilogram per hektare. Pengembangan komoditas ini melibatkan 518 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan sedikitnya 75.872 petani hutan yang menggantungkan sebagian penghasilan keluarganya dari sektor kopi.

Keterlibatan Masyarakat dalam Budidaya Kopi

Menurut Tio, keterlibatan masyarakat dalam budidaya kopi sangat penting dalam menjaga kelestarian kawasan hutan. Semakin besar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat, semakin tinggi pula kepedulian mereka terhadap keberlangsungan hutan.

“Ketika masyarakat merasakan langsung manfaat ekonomi dari pohon yang tegak berdiri, mereka akan ikut menjaga kelestarian hutan tersebut dengan sukarela. Potensi ekonomi kopi inilah yang terus kita dorong agar naik kelas, bertransformasi ke kelembagaan yang lebih kuat seperti koperasi, dan mampu menembus pasar yang lebih luas dengan tetap membawa narasi perlindungan lingkungan,” tambahnya.

Komitmen Ke Depan

Ke depan, Perhutani berkomitmen memperluas dampak positif program agroforestry kopi sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Program ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja yang layak, serta upaya mitigasi perubahan iklim melalui pelestarian ekosistem daratan di Pulau Jawa dan Madura.

Dengan pendekatan yang berkelanjutan dan partisipasi aktif masyarakat, Perhutani menunjukkan bahwa kopi bukan hanya sekadar komoditas, tetapi juga alat untuk menciptakan keseimbangan antara lingkungan dan ekonomi. Melalui inisiatif ini, Perhutani tidak hanya menjaga hutan, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar dan membangun masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *