Selain bantuan sarana pengendalian, kegiatan pemberantasan tikus juga dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan petani dan masyarakat di wilayah terdampak.
Menurut Hendri, pengendalian hama tidak cukup dilakukan setelah tanaman mengalami kerusakan. Pencegahan secara serentak dan berkelanjutan menjadi salah satu kunci untuk mengurangi risiko serangan.
“Petani diimbau untuk melakukan pengendalian secara serentak dan berkelanjutan, tidak hanya ketika serangan sudah meluas,” ujarnya.
Sanitasi Lahan Jadi Bagian Pencegahan
Selain penggunaan umpan dan sarana pengendalian lainnya, petani juga didorong memperhatikan kondisi lingkungan persawahan.
Sanitasi lahan, pengendalian habitat tikus, pemasangan perangkap, penggunaan umpan secara tepat, serta kegiatan gotong royong di tingkat kelompok tani dapat dilakukan sebagai bagian dari pengendalian terpadu.
“Upaya seperti sanitasi lahan, pengendalian habitat tikus, pemasangan perangkap, penggunaan umpan secara tepat, serta gotong royong di tingkat kelompok tani menjadi bagian penting dalam menekan serangan hama tikus di lahan persawahan Brebes,” pungkas Hendri.
Dengan pengendalian yang dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan, pemerintah berharap populasi tikus dapat ditekan sehingga kerusakan tanaman tidak semakin meluas. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga produktivitas lahan dan keberlanjutan produksi padi di Kabupaten Brebes.












