Prediksi BMKG: El Nino Dapat Memengaruhi Musim Kemarau di Indonesia
JAKARTA – BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) telah memprediksi bahwa fenomena El Nino berpotensi kembali terjadi pada tahun 2026. Fenomena ini diperkirakan akan memengaruhi curah hujan di Indonesia, sehingga musim kemarau bisa menjadi lebih kering dibandingkan biasanya.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhesena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa kecenderungan terjadinya El Nino dalam tahun ini cukup signifikan dan perlu diwaspadai sejak dini.
“BMKG sudah memprediksi akan terjadi El Nino di musim kemarau tahun ini. Kecenderungan untuk terjadinya El Nino tahun ini cukup signifikan,” ujar Ardhesena dalam wawancara yang tayang di kanal YouTube Info BMKG.
Apa Itu El Nino?
El Nino adalah fenomena penyimpangan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik. Dalam kondisi normal, panas laut terbesar berada di wilayah Pasifik Barat. Namun, saat El Nino terjadi, panas tersebut berpindah ke bagian tengah hingga timur Samudera Pasifik. Perpindahan ini menyebabkan pusat pembentukan awan bergeser menjauhi Indonesia.
“Panas laut terbesar di bumi itu di Pasifik Barat. Akan tetapi karena anomali tertentu, panas laut tersebut pindah ke Pasifik Tengah dan Pasifik Timur,” jelas Ardhesena.
Ia menekankan bahwa El Nino bukanlah badai, melainkan fenomena yang berkembang secara perlahan dalam beberapa bulan. Fenomena ini melibatkan interaksi antara laut dan atmosfer.
Curah Hujan di Indonesia Bisa Berkurang
Menurut Ardhesena, perpindahan pusat pembentukan awan akibat El Nino menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia, terutama hujan kecil hingga sedang. Hal ini dapat membuat musim kemarau terasa lebih lama atau musim hujan datang lebih lambat dari biasanya.
“Ketika bertemu dengan musim kemarau, El Nino menekan hujan-hujan kecil, sehingga seolah-olah musim kemarau kita menjadi lebih panjang,” jelasnya.
Meski demikian, dampak El Nino tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Intensitasnya tergantung pada karakteristik iklim masing-masing daerah.
Peluang Heatwave di Indonesia Relatif Kecil
Meski El Nino dapat memengaruhi curah hujan, BMKG menegaskan bahwa peluang terjadinya gelombang panas ekstrem atau heatwave di Indonesia relatif kecil. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi laut.
Pergerakan udara di Indonesia cenderung naik, sehingga sulit untuk menciptakan gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di Eropa maupun Asia Timur.
“Kalau di luar negeri ada heatwave, di Indonesia peluangnya masih kecil,” katanya.
Namun, meskipun peluang heatwave rendah, Ardhesena mengingatkan masyarakat bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering.
Masyarakat perlu waspada terhadap dampaknya, seperti penurunan kualitas udara dan potensi kekeringan di beberapa wilayah. Pemantauan dan persiapan diperlukan untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi.












