Kekhawatiran Pasar terhadap Prospek Ekonomi Indonesia
JAKARTA – Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Nur Hidayah, menyampaikan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Dalam beberapa bulan terakhir, nilai tukar rupiah sempat melampaui angka Rp 18.000 per dollar AS, sementara IHSG turun ke level 5.000 setelah sebelumnya mencapai 8.000.
Menurut Nur, tekanan terhadap Indonesia sering dikaitkan dengan berbagai faktor global seperti ketidakstabilan ekonomi dunia, kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, perang dagang, konflik di kawasan Timur Tengah, serta kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Namun, negara-negara ASEAN lain seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina juga mengalami tantangan serupa. Oleh karena itu, muncul pertanyaan mengapa tekanan pasar terhadap Indonesia terasa lebih besar dibandingkan negara-negara tersebut.
“Pasar sedang memberikan pesan yang lebih dalam. Mereka tidak hanya menilai inflasi atau defisit, tetapi juga menilai kualitas institusi, konsistensi kebijakan, dan kepastian arah pembangunan,” ujarnya dalam diskusi virtual.
Faktor Domestik yang Mengganggu Persepsi Pasar
Salah satu faktor yang memengaruhi persepsi pasar adalah keraguan terhadap kemampuan Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Mesin utama pertumbuhan ekonomi yang selama ini berasal dari konsumsi rumah tangga mulai melemah, sektor manufaktur stagnan, produktivitas rendah, serta investasi belum memberikan transformasi signifikan.
“Investor mempertanyakan dari mana sumber pertumbuhan 8 persen akan datang jika jawabannya tidak jelas, maka risiko Indonesia akan meningkat,” tambah Nur.
Faktor kedua adalah ruang fiskal yang semakin sempit. Investor tidak hanya memperhatikan besaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tetapi juga berbagai kewajiban pembiayaan yang akan datang.
Program makan bergizi gratis, pembangunan infrastruktur, subsidi energi, transisi energi, dan perlindungan sosial membutuhkan pendanaan yang besar. Sementara itu, rasio pajak Indonesia masih berada di kisaran 10-11 persen, dan penerimaan dari sektor komoditas mulai menurun.
“Pasar mulai bertanya apakah APBN mampu membiayai seluruh agenda besar tersebut tanpa meningkatkan risiko fiskal,” ujar Nur.
Penurunan Kekuatan Konsumsi Domestik
Selain itu, menyusutnya kelas menengah yang hampir menembus angka 10 juta orang dalam lima tahun terakhir juga menjadi perhatian. Kelompok ini menyumbang sekitar 80 persen konsumsi nasional. Kondisi ini membuat investor mempertanyakan kekuatan konsumsi domestik sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Jika kelas menengah melemah, siapa yang akan menopang konsumsi domestik? Karena selama ini konsumsi adalah mesin utama ekonomi Indonesia,” jelas Nur.
Kurangnya Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru
Selanjutnya, pasar juga memperhatikan kurangnya mesin pertumbuhan ekonomi baru. Negara seperti Vietnam telah berhasil mengembangkan sektor manufaktur ekspor yang kuat, arus investasi asing langsung (FDI) yang besar, serta integrasi yang kuat dengan rantai pasok global. Namun, Indonesia masih bergantung pada komoditas, konsumsi domestik, dan APBN sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi.
“Pasar mempertanyakan apa yang akan menjadi mesin pertumbuhan berikutnya jika komoditas habis, dan ini yang belum terjawab,” ungkap Nur.
Aspek Kelembagaan yang Menjadi Perhatian
Selain faktor ekonomi, pasar juga memperhatikan aspek kelembagaan. Investor mencermati kepastian hukum, konsistensi regulasi, kualitas tata kelola, serta independensi institusi ekonomi.
“Investor tidak takut pada risiko, tetapi mereka takut pada ketidakpastian. Dan ketidakpastian institusional biasanya dihukum lebih keras daripada risiko ekonomi biasa,” tutup Nur.












