Motor Listrik Bekas Semakin Diminati, Ini Penyebab Pemilik Menjualnya

Pertumbuhan Pasar Motor Listrik Bekas di Indonesia

JAKARTA – Pasar motor listrik bekas di Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang signifikan. Semakin banyak unit motor listrik bekas yang muncul di berbagai bursa, dengan kondisi yang beragam.

Mulai dari kendaraan dengan jarak tempuh rendah hingga motor yang telah digunakan selama lebih dari setahun. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan akan motor listrik bekas semakin meningkat.

Adi, pengelola Dablong.EV, menjelaskan bahwa mayoritas motor listrik bekas yang masuk ke tempat usahanya berasal dari konsumen yang ingin mengganti kendaraan. Selain itu, ada juga unit yang datang dari lelang atau pemilik yang memutuskan untuk menjual motornya karena alasan tertentu.

“Kebanyakan yang menjual ke saya adalah mereka yang ingin ganti unit. Ada juga yang diambil dari lelang, jadi bisa mendapatkan unitnya,” ujarnya.

Menurut Adi, fenomena konsumen yang membeli motor listrik hanya karena penasaran lalu menjualnya kembali memang terjadi. Namun jumlahnya relatif kecil dibandingkan alasan lain yang lebih dominan.

“Ada juga yang memiliki kilometer masih rendah, jadi orang cuma penasaran pakai motor listrik lalu dijual lagi. Tapi tidak banyak,” katanya.

Alasan Ekonomi dan Kondisi Baterai

Salah satu faktor utama yang sering ditemui dalam penjualan motor listrik bekas adalah alasan ekonomi. Banyak pemilik memilih melepas motor listrik mereka karena membutuhkan dana secara cepat.

“Banyak yang menjual motor listrik karena butuh uang. Atau ada juga yang sudah menggunakan selama setahun, baterainya mulai menurun, jadi dijual lagi,” jelas Adi.

Selain alasan ekonomi, kondisi baterai yang menurun juga menjadi salah satu alasan utama konsumen menjual kendaraan mereka. Fenomena ini sering terjadi pada motor listrik yang menggunakan baterai jenis Sealed Lead Acid (SLA).

“Contohnya banyak yang menggunakan Yadea karena baterainya SLA. Biasanya setelah setahun mulai dijual. Kapasitas baterainya turun sekitar 30 persen, jadi tinggal 70 persen,” tambahnya.

Pengaruh Penurunan Kondisi Baterai terhadap Harga Jual

Penurunan performa baterai tersebut turut memengaruhi harga jual motor listrik bekas. Selisih harga antara motor baru dan bekas bisa mencapai lebih dari separuh harga saat unit masih baru.

Adi menjelaskan bahwa motor listrik yang awalnya dijual dengan harga sekitar Rp 14 jutaan setelah subsidi, biasanya hanya dihargai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta ketika kondisi baterainya menurun.

“Harga baru sekitar Rp 14 jutaan setelah subsidi. Kalau dijual ke kami biasanya Rp 5 juta sampai Rp 6 juta kalau baterainya sudah jelek. Jika baterainya pernah diganti atau masih dalam kondisi lebih baik, bisa mencapai Rp 6 juta sampai Rp 6,5 juta,” ungkapnya.

Proses Perbaikan Sebelum Dipasarkan Kembali

Sebelum kembali dipasarkan kepada konsumen, unit-unit motor listrik bekas umumnya menjalani proses perbaikan terlebih dahulu. Khusus untuk motor listrik yang masih menggunakan baterai SLA, penggantian baterai menjadi langkah yang sering dilakukan agar kendaraan kembali optimal saat dijual.

“Sebelum saya jual lagi, biasanya baterainya saya ganti baru jika yang masih menggunakan SLA,” pungkas Adi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *