17 Kecamatan di Brebes Masuk Potensi Bahaya Kekeringan, Total Luas Capai 175.904 Hektare

Droping air bersih di wilayah kekeringan Brebes
Droping air bersih di wilayah selatan Kabupaten Brebes yang mengalami kesulitan air bersih. (Foto: Istimewa)

BREBES – Potensi bahaya kekeringan mengancam seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Brebes. Berdasarkan data Kajian Risiko Bencana (KRB) dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes Tahun 2025–2029, total luas wilayah yang masuk dalam potensi bahaya kekeringan mencapai 175.904,57 hektare.

Data BPBD Brebes mencatat seluruh 17 kecamatan di Kabupaten Brebes memiliki potensi bahaya kekeringan. Berikut total luas potensi bahaya kekeringan di masing-masing kecamatan, di antaranya Banjarharjo seluas 15.841,34 hektare; Bantarkawung seluas 20.487,78 hektare; Brebes seluas 8.749,71 hektare.

Kemudian di Kecamatan Bulakamba seluas 11.770,13 hektare; Bumiayu seluas 8.057,28 hektare; Jatibarang seluas 3.633,02 hektare; Kersana seluas 2.755,14 hektare; Ketanggungan seluas 15.576,43 hektare; Larangan seluas 15.817,74 hektare; Losari seluas 8.343,59 hektare; Paguyangan seluas 10.654,54 hektare.

Selanjutnya, Kecamatan Salem seluas 16.847,37 hektare; Sirampog seluas 7.452,37 hektare; Songgom seluas 5.299,14 hektare; Tanjung seluas 7.041,17 hektare; Tonjong seluas 8.655,60 hektare; dan Wanasari seluas 7.279,15 hektare. Dari data tersebut, Bantarkawung tercatat memiliki total luas potensi bahaya kekeringan paling besar, yakni 20.487,78 hektare.

Selanjutnya Salem dengan 16.847,37 hektare, Banjarharjo 15.841,34 hektare, Larangan 15.817,74 hektare, dan Ketanggungan 15.576,43 hektare. Sementara itu, wilayah dengan total luas potensi bahaya kekeringan paling kecil adalah Kersana, yakni 2.755,14 hektare, disusul Jatibarang 3.633,02 hektare dan Songgom 5.299,14 hektare.

“Secara keseluruhan, data KRB Kabupaten Brebes Tahun 2025–2029 tersebut menunjukkan seluruh kecamatan berada dalam kelas bahaya kekeringan kategori sedang,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Brebes, Wibowo Budi Santoso, Selasa (8/9/2026).

Wibowo Budi Santoso melanjutkan, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan, terutama dalam pengelolaan kebutuhan air masyarakat serta sektor pertanian.

“Saat ini kami sudah melakukan droping air bersih ke desa yang mengalami kesulitan air bersih. Berdasarkan data rekapitulasi penanganan bencana krisis air periode 13 Juli hingga 7 September 2026, kami telah membagikan sebanyak 611.000 liter air bersih,” tandasnya.

Baca Juga:  Semeru Alami 17 Gempa Erupsi Saat Imlek