Iran: 26 Kapal Berhasil Melintasi Selat Hormuz dalam 24 Jam

Peningkatan Aktivitas Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz

JAKARTA – Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menghubungkan Laut Arab dengan Teluk Persia, kembali menjadi fokus perhatian internasional. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melaporkan bahwa mereka telah mengkoordinasikan transit sebanyak 26 kapal melalui selat tersebut dalam 24 jam terakhir. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan tingkat pelayaran sebelumnya.

Peristiwa ini terjadi setelah Iran memberlakukan pembatasan terhadap lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz sebagai respons terhadap agresi AS-Israel terhadap negara tersebut pada akhir Februari. Dalam pernyataannya, IRGC menyatakan bahwa 26 kapal berbagai jenis, termasuk kapal tanker minyak dan kapal kontainer, berhasil melintasi selat tersebut dengan bantuan dan perlindungan dari Angkatan Laut IRGC.

Pihak IRGC juga menekankan bahwa semua kapal harus memperoleh izin dan berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC sebelum melintasi jalur tersebut. Hal ini menunjukkan upaya Iran untuk memastikan keamanan dan pengawasan atas lalu lintas maritim di wilayah strategis tersebut.

Pemetaan Zona Maritim Terkontrol

Dalam sebuah pernyataan, Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) mengumumkan penerbitan peta baru Selat Hormuz melalui media sosial. Peta ini menandai zona maritim terkontrol yang tidak dapat dilintasi tanpa izin dari otoritas Iran. Zona ini mencakup area dari Kuh-e Mubarak di Iran hingga selatan Fujairah di Uni Emirat Arab, serta dari Pulau Qeshm hingga Umm al-Quwain di pintu masuk barat.

Pengumuman ini menunjukkan langkah lebih lanjut oleh Iran untuk memperkuat kendali atas jalur vital ini, yang memiliki peran penting dalam perdagangan minyak global.

Perkembangan Diplomasi dan Ancaman Militer

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa negosiasi dengan Iran sedang berlangsung. Namun, ia juga mengancam akan melanjutkan aksi militer jika Iran tidak menyetujui kesepakatan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa kembalinya perang akan membawa konsekuensi yang tidak terduga.

IRGC juga menyampaikan peringatan serupa, menyatakan bahwa jika Iran diserang lagi, konflik akan berkembang lebih luas dan melibatkan wilayah-wilayah lain.

Stabilitas Harga Minyak Pasca-Penundaan Serangan

Harga minyak dunia mengalami penurunan setelah Presiden Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran. Keputusan ini meredakan kekhawatiran pasar tentang gangguan pasokan minyak.

Berdasarkan data Tradingview, harga minyak Brent untuk pengiriman Juli turun 2,13% menjadi US$109,71 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun 1,16% menjadi US$107,40 per barel.

Trump mengumumkan penundaan serangan tersebut setelah menerima permintaan dari pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Sebelumnya, ia sempat mengatakan bahwa Iran mengetahui “apa yang akan segera terjadi”, meskipun tidak menjelaskan secara rinci.

Kebijakan dan Harapan Diplomasi

Laporan Axios menyebutkan bahwa Trump mempertimbangkan kembali opsi serangan militer setelah proposal terbaru Iran dalam perundingan dinilai belum memenuhi harapan. Dalam acara di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa pemerintah AS bersiap melakukan serangan besar besok, tetapi keputusan tersebut ditunda sementara.

Menurut lembaga keuangan ING, pasar minyak masih menghitung potensi gangguan pasokan di Timur Tengah. Meski ada harapan bahwa China dapat membantu mendorong kemajuan diplomasi antara Trump dan Presiden Xi Jinping, hingga saat ini belum ada indikasi nyata tentang hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *