Polemik Dualisme Keraton Solo Jelang Kirab Malam 1 Suro, LDA Tuntut Dana Pemeliharaan Kebo Bule

Polemik Kepemimpinan di Keraton Kasunanan Solo Menghadapi Kirab Malam 1 Suro

SURAKARTA – Polemik terkait kepemimpinan di Keraton Kasunanan Solo kembali mencuat, menjelang pelaksanaan prosesi adat tahunan Kirab Malam 1 Suro yang akan digelar pada Selasa (16/6/2026) mendatang. Masalah ini muncul dalam konteks pemeliharaan dan pelaksanaan acara adat tersebut, khususnya terkait peran hewan peliharaan Raja Keraton Solo, yaitu Kebo Bule Kyai Slamet, sebagai cucuk lampah atau penunjuk jalan selama prosesi berlangsung.

Salah satu pihak yang terlibat dalam pengurusan kebo bule adalah Pengageng Kartipuro, yang bertanggung jawab atas beberapa aspek termasuk perawatan hewan tersebut. Ditemui saat mengikuti persiapan gladi bersih Kirab Malam 1 Suro, Cucu PB XII, KRMH Djoyo Adilogo menegaskan bahwa pihak Lembaga Dewan Adat (LDA) yang selama ini memelihara Kebo Bule Kyai Slamet.

“Penyelenggaraan acara setiap tahun tetap berjalan seperti biasa. Persiapan kemarin sudah ada gladi bersih dan hari ini juga dilakukan. Nanti kita akan melakukan satu putaran,” ujar Djoyo, yang menjabat sebagai Wakil Pengageng Kartipuro.

Ia juga menyebut bahwa sejak tahun 2004, ia telah ditunjuk sebagai Wakil Pengageng Kartipuro yang bertanggung jawab atas perawatan Mahesa, atau Kebo Bule Kyai Slamet. “Saya tidak perlu diminta lagi, saya sudah langsung berangkat,” tambahnya.

Djoyo menambahkan bahwa sebelum Pakubuwono (PB) XIV Hangabehi naik tahta, ia pernah menjabat sebagai Pengageng Kartipuro. Selain itu, ia juga menyebut bahwa terdapat puluhan orang yang ditunjuk sebagai pawang kebo bule. Dari jumlah tersebut, lima di antaranya merupakan Srati, atau perawat kebo bule yang akan bertugas selama Kirab Malam 1 Suro.

“Tim Srati terdiri dari lima orang. Ada juga 30 orang pengawal kebo yang akan membawa pakan di setiap perempatan dan membuka jalan,” ujarnya.

Anggaran Perawatan Kebo Bule

Dalam kesempatan yang sama, Djoyo juga menyatakan bahwa dana untuk perawatan Kebo Bule Kyai Slamet berasal dari LDA. Ia menyebut anggaran sebesar Rp6 juta per bulan dialokasikan untuk biaya perawatan, termasuk pakan hewan.

“Iya, LDA yang memberi makan kebo bule. Setiap bulannya sekitar Rp6 hingga Rp7 juta. Kami menyediakan rumput, telo, dan suplemen,” jelasnya.

Namun, hingga saat ini, pihak Pakubuwono (PB) XIV Purboyo belum memberikan respons resmi terkait klaim tersebut. Saat dihubungi oleh Mantiq Media, Juru Bicara PB XIV Purboyo, KPA Singonagoro hanya memberikan jawaban singkat.

“Besok ya,” tulis pesan tersebut.

Prosesi Adat yang Menjadi Sorotan

Kirab Malam 1 Suro menjadi salah satu acara adat yang paling dinantikan oleh masyarakat Solo dan para penggemar budaya Jawa. Acara ini memiliki makna penting sebagai simbol perayaan awal tahun dalam kalender Jawa. Namun, polemik tentang kepemimpinan dan tanggung jawab dalam penyelenggaraannya menimbulkan ketidakpastian.

Beberapa pihak terlibat dalam pengaturan prosesi, mulai dari pengelolaan hewan, pengawasan, hingga pembagian anggaran. Meski demikian, banyak yang berharap agar acara ini dapat berjalan dengan lancar tanpa konflik yang berlarut-larut.

Kedepannya, diperlukan komunikasi yang lebih transparan dan koordinasi yang baik antara berbagai pihak terkait agar Kirab Malam 1 Suro tetap menjadi momen yang bermakna dan penuh keharmonisan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *