Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883: Gelapkan Suhu Bumi dan Ubah Warna Bulan Jadi Biru

Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883
Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883. (Foto: Ilustrasi AI)

JAKARTA – Bencana dahsyat di Selat Sunda pada Agustus 1883 silam mencatatkan sejarah kelam yang mengubah wajah dunia secara mendadak. Erupsi Gunung Krakatau kala itu meluncurkan kekuatan destruktif yang diperkirakan setara dengan daya ledak 200 megaton bom.

Peristiwa tragis ini menelan lebih dari 36.000 korban jiwa, menjadikannya salah satu erupsi gunung api paling mematikan dalam sejarah modern setelah Gunung Tambora pada 1815.

Namun, tidak hanya dampak kerugian jiwa dan material secara lokal yang menjadi sorotan. Efek dari erupsi raksasa ini merambah hingga ke tingkat global.

Selama beberapa bulan pasca-letusan, suhu rata-rata permukaan Bumi tercatat mengalami penurunan sekitar 0,6 derajat Celsius akibat semburan partikel vulkanik yang membumbung tinggi hingga menembus lapisan stratosfer.

Trik Optik Alam: Mengapa Bulan Tampak Biru?
Salah satu keanehan fenomena alam yang paling memukau dari letusan Krakatau adalah munculnya pemandangan “Bulan Biru” (Blue Moon). Fenomena visual yang tak biasa ini memicu ketakjuban sekaligus tanda tanya besar bagi warga dunia pada era tersebut.

Situs resmi Natural History Museum menjelaskan bahwa letusan Krakatau melepaskan sulfur dioksida dan mikro-partikel abu berukuran kurang dari satu mikron—jauh lebih tipis dibanding helai rambut manusia. Ukuran partikel ini secara unik sedikit lebih lebar daripada panjang gelombang cahaya merah.

Ketika cahaya matahari yang dipantulkan oleh bulan melewati lapisan awan abu vulkanik tersebut, partikel-partikel mikroskopis itu menyerap gelombang warna merah dan membiarkan warna-warna dengan gelombang lebih pendek (seperti biru dan ungu) lolos.

Efek filter alami inilah yang membuat pemandangan Bulan terlihat berwarna kebiruan dari permukaan Bumi.

Para ilmuwan menyebutkan bahwa efek unik perubahan warna langit dan Bulan akibat erupsi vulkanik atau kebakaran hutan hebat masih dapat terjadi hingga saat ini, tergantung pada konsentrasinya di atmosfer.

Meski dampaknya terhadap iklim global akibat Krakatau 1883 kini telah usai, sejarah mencatat peristiwa tersebut sebagai pembuktian betapa dahsyatnya kekuatan alam dalam mengubah ekosistem planet Bumi secara sekejap.

Baca Juga:  Banjir Jakarta Meluas Pagi Ini: 90 RT Terendam, Ini Lokasi Titik Banjir