NTT – Sejumlah masyarakat di Pulau Flores masih memilih bertahan di tenda yang didirikan di depan rumah mereka setelah gempa bumi magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026).
Hingga Rabu (19/8/2026), rasa takut dan trauma akibat guncangan kuat membuat sebagian warga belum berani kembali beraktivitas secara normal di dalam rumah, meskipun kondisi di sekitar tempat tinggal mereka berangsur kondusif.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam penanganan pascagempa. Rasa takut merupakan hal yang wajar dirasakan masyarakat setelah mengalami guncangan besar. Namun, masyarakat diimbau agar tidak membiarkan rasa takut berkembang menjadi kepanikan yang justru dapat mengganggu aktivitas dan proses pemulihan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto saat menemui penyintas di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Rabu (19/8/2026), menyampaikan, masyarakat perlu memahami kondisi kegempaan berdasarkan informasi dan kajian dari BMKG.
“Gempa susulan masih dapat terjadi setelah gempa utama,” kata Suharyanto.
Namun, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, gempa susulan yang terjadi cenderung memiliki kekuatan lebih kecil dibandingkan gempa utama. Informasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami situasi secara lebih proporsional, sehingga tetap waspada tanpa diliputi ketakutan yang berlebihan.
Ia menegaskan jangan panik, tetapi tetap waspada. Selama 2-3 minggu ke depan menurut BMKG gempa susulan itu mungkin masih terjadi. Tetapi gempa-gempa itu tidak sebesar gempa utama (red: tidak sebesar magnitudo 7,7). Bahkan jika ada isu akan terjadi tsunami menurut BMKG itu tidak mungkin. Hal ini berdasarkan riset ilmu pengetahuan.
Menurutnya, kewaspadaan tetap menjadi hal utama, terutama bagi masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan. Warga diminta tidak memasuki bangunan yang telah mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang. Pilihan untuk sementara tinggal di tenda di sekitar rumah dapat dilakukan apabila kondisi rumah belum dipastikan aman.
“Jika rumahnya rusak cukup parah, jangan masuk ke dalam rumah atau bangunan tersebut. Keselamatan masyarakat adalah yang utama. Tetapi bagi rumah yang aman dan sudah diperiksa, masyarakat tidak perlu takut secara berlebihan. Tetap ikuti informasi resmi, jangan percaya pada kabar yang tidak jelas sumbernya,” jelasnya.
BNPB juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan setiap getaran kecil sebagai alasan untuk panik. Sebaliknya, setiap getaran harus disikapi dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan yang benar, seperti melindungi diri, menjauh dari bangunan yang berisiko, serta mengikuti prosedur keselamatan yang telah disosialisasikan.
Masyarakat Pulau Flores Pilih Bertahan di Tenda usai Gempa M 7,7 Guncang NTT
Rekomendasi untuk kamu

NTT – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT),…

NTT – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu…

NTT – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026)…

Hujan Deras Mengakibatkan Genangan di Sejumlah Wilayah Jakarta JAKARTA – Hujan deras yang mengguyur wilayah…








