BREBES — Memasuki musim tanam, petani bawang merah di Kabupaten Brebes, justru dihadapkan pada persoalan klasik: air yang semakin sulit didapat. Kondisi sejumlah saluran irigasi dan embung yang mengering membuat petani di Desa Dukuhwringin, Kecamatan Wanasari, harus mencari sumber air sendiri untuk menyelamatkan tanaman bawang merah yang baru berusia sekitar satu hingga dua pekan.
Bukan tanpa biaya. Petani terpaksa membuat sumur bor dangkal dan mengoperasikan pompa berbahan bakar diesel untuk mengalirkan air ke lahan. Kondisi tersebut membuat ongkos produksi ikut membengkak.
Setiap kali pompa dioperasikan, petani sedikitnya harus mengeluarkan sekitar Rp50 ribu hanya untuk membeli bahan bakar. Padahal, tanaman bawang merah yang baru ditanam membutuhkan penyiraman secara rutin agar pertumbuhannya tidak terganggu.
“Air di irigasi maupun di embung sudah habis, jadi kami kesulitan air dan harus pakai pompa diesel dari sumur bor untuk menanam. Ongkosnya banyak sekali, satu kali penyiraman bisa sampai Rp50.000 dengan jadwal dua hari sekali, bahkan tiap hari kalau airnya lagi banyak,” kata kata Ardi, petani bawang merah Desa Dukuhwringin, Sabtu (3/10/2026).
Dia melanjutkan, jika tidak ada hujan terus-menerus seperti ini, total biaya operasional menggunakan pompa sampai panen bisa mencapai Rp2 juta. Biaya otomatis bertambah, sehingga sangat khawatir harga jual hasil panen murah. Untuk sumber lain, air masih ada, namun ada pengeringan yang baru mulai mengalir lagi tanggal 15 Oktober setelah dua bulan dikeringkan.
“Sudah lima bulan dari bulan Mei sampai Oktober tidak turun hujan, jadi untuk kebutuhan tanam harus pakai pompa terus sampai ada hujan. Keinginan saya kepada pemerintah ya supaya irigasinya bisa tetap mengalir, meskipun sedang musim kemarau.” kata Ardi.
Kondisi lahan yang kering membuat petani harus mengubah pola penyiraman. Jika dalam kondisi normal tanaman disiram setiap pagi dan sore, keterbatasan air membuat penyiraman terpaksa dilakukan lebih jarang, bahkan sekitar dua hari sekali. Langkah tersebut dilakukan bukan karena kebutuhan tanaman berkurang, melainkan karena petani kesulitan mendapatkan air.
Tanaman bawang merah sendiri masih jauh dari masa panen. Umumnya, tanaman baru dapat dipanen ketika berusia sekitar 60 hari. Artinya, petani masih harus menjaga tanaman selama berminggu-minggu ke depan dengan kondisi sumber air yang belum pasti.
Sumur bor dan pompa diesel akhirnya menjadi pilihan untuk mempertahankan tanaman tetap hidup. Namun, pilihan itu sekaligus menambah beban modal yang harus dikeluarkan petani.
“Saluran irigasi di sini tidak ada airnya dan kering semua, embung juga sudah habis, jadi airnya terpaksa diambil dari sumber menggunakan mesin pompa. Dampaknya, biaya operasional penanaman pasti nambah karena harus menyedot air pakai mesin, di mana waktu penanaman saja ongkosnya bisa mencapai Rp1,5 juta untuk satu petak,” kata petani bawang merah lain, Sohari.
Dia melanjutkan, kesulitan air ini sudah dirasakan sejak awal mulai penanaman. Menurut dia, di Dukuhwingin ini ada banyak yang sedang menanam bawang sampai ratusan hektar, dengan usia tanaman yang bervariasi seperti punya saya yang baru lima hari dan lahan sebelah sekitar seminggu.
Persoalan petani tidak berhenti pada ketersediaan air. Di tengah biaya produksi yang meningkat, petani juga dibayangi ketidakpastian harga bawang merah ketika masa panen tiba. Harga komoditas tersebut kerap berubah mengikuti kondisi pasokan dan permintaan.
Ketika panen raya berlangsung, melimpahnya produksi dapat membuat harga di tingkat petani tertekan. Situasi itu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi petani yang saat ini harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air. Modal bertambah, tetapi harga jual ketika panen belum tentu mampu mengikuti kenaikan biaya produksi.
Petani pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan menangani persoalan air, terutama dengan memastikan ketersediaan sumber air untuk lahan pertanian. Mereka juga berharap ada langkah untuk menjaga stabilitas harga bawang merah ketika panen mendatang.
Sebab, bagi petani, ancamannya kini datang dari dua arah sekaligus: tanaman terancam kekurangan air, sementara harga jual saat panen juga belum memberikan kepastian.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, petani khawatir biaya produksi yang semakin tinggi justru tidak sebanding dengan hasil yang mereka dapatkan.













