FOTO: Tarian Kehancuran Budaya, Tari Tanggai Palembang Sindir Kuasa di Balik Karhutla

Tari Tanggai Palembang dalam karya satir Tarian Kehancuran Budaya yang mengangkat kritik terhadap karhutla dan kerusakan lingkungan.
Tari Tanggai Palembang dalam karya satir Tarian Kehancuran Budaya yang mengangkat kritik terhadap karhutla dan kerusakan lingkungan. (Foto: IG/Ichalago dan Kultur Domestik)
IMG_20261013_104608
IMG_20261013_104702
IMG_20261013_104632
IMG_20261013_104828
IMG_20261013_105631
IMG_20261013_104538
IMG_20261013_105653
IMG_20261013_104525

PALEMBANG – Tari Tanggai, tarian tradisional Palembang yang identik dengan penghormatan dan penyambutan tamu, menjadi medium kritik sosial dalam karya satir bertajuk Tarian Kehancuran Budaya. Karya ini menyoroti ironi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ekspansi korporasi yang dinilai mengabaikan kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat.

Kritik tersebut disampaikan melalui perpaduan seni tari dan narasi puitis yang menyindir kekuasaan. “Tak ada penyambutan atas kuasa amtenar, yang mengizinkan lahan korporasi menyebar, dengan cara barbar, menyisakan luka memar, menghancurkan kebudayaan dengan nanar,” demikian penggalan narasi dalam karya tersebut.

Penggunaan Tari Tanggai menghadirkan ironi tersendiri. Tarian yang biasanya menjadi simbol keramahan masyarakat Palembang justru digunakan untuk menyuarakan perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap lebih mengutamakan kepentingan korporasi daripada keselamatan warga dan kelestarian alam.

Kritik itu juga menyoroti dampak karhutla yang tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat akibat paparan asap. Kabut asap dapat memicu gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Melalui pendekatan satir, Tarian Kehancuran Budaya mengajak masyarakat melihat karhutla sebagai persoalan yang lebih luas daripada kebakaran lahan semata. Karya ini mempertanyakan tanggung jawab pemegang kekuasaan dalam melindungi lingkungan dan memastikan kepentingan publik tidak dikalahkan oleh kepentingan ekonomi.

Diinisiasi bersama sejumlah seniman dan kawan, karya tersebut menjadi bentuk protes terhadap kerusakan alam sekaligus pengingat bahwa hutan merupakan bagian penting dari ruang hidup masyarakat. Kerusakan lingkungan berpotensi mengancam mata pencaharian, kesehatan, serta tradisi yang tumbuh bersama alam.

Pesan utama karya ini menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menjaga tarian dan seremoni adat. Lingkungan yang sehat juga harus dipertahankan, sebab ketika hutan dihancurkan, kehidupan masyarakat dan keberlanjutan kebudayaan ikut dipertaruhkan.