Jepang Mundur dari Misi Karhutla Kalimantan, Suharyanto Ungkap Alasan Bantuan Berakhir

Pasukan Bela Diri Jepang (Japan Self-Defense Forces/SDF) telah membantu usai mencegah meluasnya karhutla di Kalimantan.
Pasukan Bela Diri Jepang (Japan Self-Defense Forces/SDF) telah membantu usai mencegah meluasnya karhutla di Kalimantan. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Jepang mengakhiri misi bantuan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan pada 29 September 2026, meski api belum sepenuhnya padam di sejumlah wilayah.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengungkapkan, penghentian operasi tersebut berkaitan dengan batas waktu misi yang telah ditetapkan pemerintah Jepang.

Dalam keterangannya pada 13 Oktober 2026, Suharyanto menjelaskan bahwa bantuan militer Jepang memang direncanakan berlangsung selama 14 hari. Dengan berakhirnya masa operasi tersebut, pasukan Jepang menyelesaikan misi dan bersiap kembali ke negaranya.

“Terkait bantuan Jepang dalam penanganan karhutla di Indonesia, Pemerintah Jepang telah menyampaikan dalam surat resmi bahwa durasi operasi penanganan karhutla akan dilaksanakan selama 14 hari. Dengan berakhirnya misi di atas, pemerintah Jepang telah menyampaikan laporan pelaksanaan misi operasi termasuk waktu pengakhirannya,” kata Suharyanto.

Penghentian misi itu terjadi ketika karhutla masih menjadi persoalan yang harus ditangani di sejumlah titik. Namun, berdasarkan penjelasan mengenai berakhirnya operasi, keputusan Jepang bukan semata-mata karena kebakaran telah sepenuhnya padam, melainkan juga mengikuti durasi penugasan yang telah disepakati.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa bantuan Pasukan Bela Diri Jepang (Japan Self-Defense Forces/SDF) telah membantu mencegah meluasnya kebakaran. Indonesia juga menyatakan apresiasi dan terima kasih atas dukungan tersebut serta menilai penanganan selanjutnya dapat dilanjutkan oleh tim dalam negeri.

Selama bertugas, Jepang mengerahkan tiga helikopter angkut berat CH-47 Chinook beserta personel dan peralatan pendukung. Helikopter itu tiba di Kalimantan Barat pada 10 September 2026, sementara operasi pemadaman udara dimulai pada 16 September.

Hingga 28 September, ketiga helikopter tersebut telah melakukan lebih dari 40 operasi udara dengan menjatuhkan sekitar 220 ton air di sejumlah titik prioritas, termasuk wilayah Pontianak dan Ketapang. Operasi terakhir dijadwalkan berlangsung pada 29 September sebelum misi resmi diakhiri.

Misi ini menjadi operasi pemadaman karhutla pertama militer Jepang di luar negeri. Sebagai bentuk penghargaan, Indonesia menganugerahkan Satyalancana Dharma Samudera kepada 361 personel Jepang pada 30 September 2026. Sebanyak 92 personel hadir dalam upacara penghargaan di kapal JS Kunisaki yang bersandar di Pelabuhan Kijing, Kalimantan Barat.

Berakhirnya bantuan Jepang kini menempatkan penanganan karhutla berikutnya di tangan Indonesia. Tantangannya bukan hanya memastikan titik api terkendali, tetapi juga menjaga agar kebakaran tidak kembali meluas setelah dukungan helikopter asing dihentikan.

Klaim kemampuan menangani sendiri harus dibuktikan melalui efektivitas pemadaman, pemantauan titik api, dan perlindungan warga terdampak.