498 Warga Batang Diduga Keracunan MBG, CCTV Ungkap Pengolahan MBG Dimulai Terlalu Dini

Bupati Batang dan BGN memeriksa dapur SPPG Bela Batang Sejahtera di Kecamatan Bawang
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan bersama perwakilan BGN meninjau dapur SPPG Bela Batang Sejahtera di Kecamatan Bawang setelah ratusan warga diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan MBG. (Foto: Dok Pemkab Batang)

BATANG – Kasus dugaan keracunan massal setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, memasuki babak baru. Pemeriksaan terhadap dapur penyedia makanan menemukan sejumlah persoalan yang dinilai tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

Sedikitnya 498 warga tercatat mengalami keluhan kesehatan dan mendapatkan penanganan medis setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bela Batang Sejahtera. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 orang telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.

Temuan tersebut terungkap saat Bupati Batang M. Faiz Kurniawan bersama perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Tengah melakukan pemeriksaan langsung ke dapur SPPG Bela Batang Sejahtera, Kamis (24/9/2026).

Dapur SPPG Disorot, Kondisi Bangunan Tak Sesuai Standar
Pemeriksaan tidak hanya berfokus pada makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat. Tim BGN juga mengecek kondisi fisik dapur hingga rekaman kamera pengawas atau CCTV.

Hasil pemeriksaan awal menemukan sejumlah bagian bangunan yang dinilai belum memenuhi standar. Di antaranya dinding yang belum solid serta beberapa area dapur yang kondisinya belum sesuai dengan ketentuan. Bagi Pemkab Batang, temuan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menentukan apakah SPPG Bela Batang Sejahtera masih layak melanjutkan operasional.

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan bahkan membuka kemungkinan penghentian permanen apabila hasil evaluasi menyatakan dapur tersebut tidak memenuhi persyaratan.
“Kalau memang dirasa tidak layak untuk melanjutkan pelayanan gizi kepada masyarakat, ya harus kita tutup secara permanen,” kata Faiz.

CCTV Ungkap Pengolahan Makanan Dimulai Terlalu Dini
Temuan lain yang tak kalah penting berasal dari pemeriksaan rekaman CCTV. Kepala KPPG Semarang, Hadiriajaya, mengatakan tim menemukan proses pengolahan makanan yang diduga dilakukan jauh lebih awal dibandingkan waktu yang ditentukan dalam SOP.

Berdasarkan rekaman yang diperiksa, aktivitas pengolahan makanan terlihat sudah dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Padahal, ketentuan SOP yang menjadi acuan menyebut proses pengolahan seharusnya dilakukan setelah pukul 02.00 WIB dini hari.

Perbedaan waktu tersebut kini menjadi salah satu bagian yang didalami untuk melihat kemungkinan kaitannya dengan kejadian dugaan keracunan. Namun, temuan pelanggaran SOP tersebut belum serta-merta membuktikan bahwa pelanggaran itulah yang menyebabkan warga mengalami gangguan kesehatan. Penyebab kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Korban Bukan Hanya Penerima MBG
Investigasi juga menemukan fakta bahwa warga yang mengalami keluhan tidak seluruhnya merupakan penerima manfaat langsung program MBG. Korban disebut berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak hingga orang dewasa.