Ikan Hasil Melaut Tak Selalu Untung, Ini 3 Masalah yang Membelit Nelayan Brebes

Aktivitas nelayan membongkar atau melelang hasil tangkapan di TPI.
Nelayan Brebes berharap sistem pemasaran dan pelelangan mampu memberikan harga jual yang lebih menguntungkan. (Foto: Dok Pemkab Brebes)

BREBES – Mendapatkan ikan bukan berarti nelayan otomatis memperoleh keuntungan besar. Setelah berjam-jam menghadapi ombak dan cuaca di laut, mereka masih harus berhadapan dengan persoalan harga jual, kualitas hasil tangkapan, hingga sistem pelelangan yang belum sepenuhnya menguntungkan.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi sektor perikanan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Nelayan di Desa Krakahan dan Pengaradan, Kecamatan Tanjung, berharap hasil melaut bisa dihargai lebih layak sehingga pendapatan keluarga ikut meningkat.

Ketua Nelayan Desa Krakahan, Rusianto, mengungkapkan bahwa harga ikan yang dilelang terkadang belum sesuai dengan harapan. Padahal, hasil tangkapan merupakan sumber utama penghidupan nelayan.

“Harapan nelayan, harga hasil tangkapan bisa lebih maksimal. Mata pencaharian kami bergantung pada hasil melaut. Mudah-mudahan dengan adanya pembangunan ini, penghasilan nelayan bisa meningkat sehingga kehidupan kami lebih sejahtera,” kata Rusianto.

Keluhan tersebut menunjukkan persoalan ekonomi nelayan bukan semata-mata soal seberapa banyak ikan yang berhasil ditangkap. Kemampuan mempertahankan kualitas ikan, akses pemasaran, dan mekanisme transaksi juga menentukan besarnya uang yang akhirnya dibawa pulang.

1. Kualitas Ikan Menentukan Harga Jual

Salah satu persoalan yang berpengaruh terhadap nilai jual ikan adalah penanganan hasil tangkapan setelah didaratkan.

Ikan yang tidak segera ditangani dengan baik berisiko mengalami penurunan kesegaran. Kondisi tersebut dapat memengaruhi harga ketika dijual kepada pedagang maupun melalui pelelangan.

Ketua Komisi 2 DPRD Brebes, Tobidin, sebelumnya menyoroti pentingnya fasilitas pendukung untuk menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan.

Saat melakukan monitoring pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih pada 17 September 2026, ia menyebut keberadaan pabrik es dan fasilitas penyimpanan menjadi bagian penting dalam memperbaiki penanganan ikan.

“Harapannya persoalan hasil tangkapan yang tidak maksimal atau ikan yang tidak lagi segar dapat diminimalkan. Nelayan juga bisa mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik dari hasil tangkapannya,” jelas Tobidin.