BREBES – Diskusi politik tidak selalu harus berbicara tentang kekuasaan dan perebutan jabatan. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Brebes justru mengajak kalangan mahasiswa dan aktivis muda membedah pemikiran sosial melalui buku Sosialisme Islam karya intelektual Muslim asal Iran, Ali Syariati.
Kegiatan yang digelar di kantor DPC PKB Brebes, Sabtu (7/11/2026), tersebut menjadi ruang bertukar gagasan mengenai Islam, keadilan sosial, pembebasan manusia, hingga kritik terhadap ketimpangan di tengah masyarakat.
Sejumlah aktivis muda dari kalangan mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) turut mengikuti diskusi tersebut.
Ketua DPC PKB Kabupaten Brebes, Musyaffa, mengatakan kegiatan bedah buku menjadi salah satu upaya membangun budaya literasi dan pemikiran kritis di kalangan generasi muda.
Menurutnya, anak muda perlu mendapatkan ruang untuk berdiskusi, membaca, dan mengembangkan gagasan tentang berbagai persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.
“Partai politik tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan politik praktis. Kami juga ingin menghadirkan ruang intelektual, tempat anak-anak muda bertukar pikiran, mengembangkan gagasan, dan membangun kepedulian terhadap persoalan keadilan sosial,” kata Musyaffa.
Ia berharap kegiatan semacam ini dapat mempertemukan berbagai perspektif sekaligus mendorong generasi muda agar lebih aktif memahami persoalan masyarakat melalui pemikiran yang kritis.
Diskusi menghadirkan Samsul Maarif dan Atmo Tan Sidik sebagai narasumber, sementara M. Iqbal Tanjung bertindak sebagai moderator. Kegiatan dibuka langsung oleh Ketua DPC PKB Brebes, Musyaffa.
Dalam pembahasan buku Sosialisme Islam, peserta diajak menelaah pemikiran Ali Syariati mengenai hubungan antara nilai-nilai Islam dan perjuangan sosial.
Ali Syariati dikenal melalui gagasannya yang menempatkan agama bukan semata-mata sebagai urusan ritual dan spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dalam memperjuangkan keadilan dan membela kelompok masyarakat yang mengalami ketertindasan.
Gagasan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi untuk melihat bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat berhubungan dengan persoalan kemanusiaan, kesenjangan sosial, dan perubahan masyarakat.













