BREBES – Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Kabupaten Brebes membawa harapan baru bagi masyarakat pesisir. Namun, di balik pembangunan fasilitas bernilai miliaran rupiah itu, nelayan masih menyimpan persoalan lama yang belum terselesaikan: aktivitas pelelangan ikan yang tidak berjalan dan harga hasil tangkapan yang belum maksimal.
Keluhan tersebut disampaikan nelayan Desa Krakahan dan Desa Pengaradan, Kecamatan Tanjung, saat Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma meninjau pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, Jumat (6/11/2026).
Salah satu aspirasi yang mencuat datang dari Tasmin, nelayan Desa Pengaradan. Ia meminta pemerintah menghidupkan kembali kongsi atau tempat pelelangan ikan yang selama ini tidak beroperasi.
Menurutnya, keberadaan fasilitas pelelangan seharusnya bisa menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Ketika tempat tersebut tidak berfungsi, potensi perputaran ekonomi dari hasil tangkapan nelayan juga belum bisa dimanfaatkan secara optimal.
“Kalau bisa, masalah kongsi itu difungsikan kembali. Selama ini sudah tidak berjalan dan tidak ada pemasukan dari kegiatan lelang,” ujar Tasmin.
Permintaan tersebut menjadi catatan penting di tengah pembangunan kawasan nelayan yang kini terus berjalan. Sebab, keberadaan gedung dan fasilitas baru tidak akan banyak berarti apabila aktivitas ekonomi perikanan di dalamnya tidak berjalan.
Tasmin sendiri mengaku berharap pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih membawa perubahan nyata bagi masyarakat. Kondisi cuaca yang kurang mendukung bahkan membuatnya hampir setengah bulan tidak bisa melaut. Saat bupati berkunjung, ia tengah memperbaiki perahunya.
“Mudah-mudahan semuanya bisa lancar. Kami berharap pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih ini bisa membawa perubahan dan manfaat bagi nelayan,” katanya.
Harga Ikan Masih Jadi Persoalan
Persoalan lain disampaikan Ketua Nelayan Desa Krakahan, Rusianto. Ia mengapresiasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih karena mulai mengubah kondisi lingkungan pesisir yang sebelumnya terkesan kumuh menjadi lebih bersih dan tertata.
Namun, perubahan fisik kawasan belum otomatis menjawab persoalan ekonomi yang selama ini dihadapi nelayan.
Rusianto berharap fasilitas yang dibangun dapat membantu memperbaiki mekanisme pemasaran hasil tangkapan sehingga nelayan memperoleh harga jual yang lebih menguntungkan.













