Jateng  

Karhutla Gunung Lawu Belum Tuntas, 68 Ribu Liter Air Dijatuhkan untuk Padamkan Api

Petugas melakukan pemadaman kebakaran hutan di kawasan Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Pemadaman kebakaran hutan Gunung Lawu dilakukan melalui jalur darat dan udara. Hingga 26 Oktober 2026, operasi water bombing dilaporkan telah dilakukan sebanyak 34 kali. (Foto: Pemprov Jateng)

KARANGANYAR — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu belum sepenuhnya berakhir. Meski jumlah titik api dilaporkan tersisa satu pada Senin (26/10/2026), ancaman kebakaran susulan masih menjadi perhatian pemerintah dan relawan yang terlibat dalam pemadaman.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta seluruh unsur penanganan bencana tetap siaga. Pemerintah juga menyiapkan kemungkinan pemadaman udara tambahan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan perkembangan api di lapangan.

“Hari ini alhamdulillah tinggal satu titik api. Saya sudah koordinasi Pak Bupati dan BNPB yang di Lanud, akan diterjunkan satu sortie lagi melihat kondisi cuaca. Tapi satu titik api ini hal penting bagi kita, karena harus kita evaluasi jangan sampai timbul titik api yang lain,” kata Ahmad Luthfi, Senin (26/10/2026).

Kebakaran di kawasan Gunung Lawu mulai terjadi pada Kamis (15/10/2026). Sejak itu, penanganan dilakukan melalui jalur darat dan udara untuk menjangkau wilayah terdampak, termasuk kawasan lereng yang sulit diakses petugas.

Berdasarkan data penanganan yang disampaikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, hingga 26 Oktober telah dilakukan 34 kali water bombing atau pengeboman air menggunakan helikopter. Total air yang dijatuhkan dalam operasi tersebut mencapai 68.000 liter.

Upaya itu membantu mengurangi titik api. Namun, masih ditemukannya api di kawasan atas Gondosuli menunjukkan bahwa penanganan belum bisa dihentikan hanya karena jumlah titik kebakaran menurun.

Relawan Butuh Peralatan dan Komunikasi

Di tengah operasi pemadaman, kebutuhan relawan menjadi persoalan yang tidak kalah penting. Medan yang berat dan lokasi kebakaran yang sulit dijangkau membutuhkan kendaraan operasional, perlengkapan keselamatan, serta alat komunikasi yang memadai.

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Gondosuli, Sutoyo, menyampaikan harapannya agar dukungan peralatan bagi masyarakat yang membantu penanganan karhutla terus diperkuat.

“Saya semakin mantap dengan upaya penanganan karhutla dan tidak kebingungan soal peralatan. Tadi saya minta kendaraan roda dua, peralatan, dan alat komunikasi. Harapannya, setelah api padam, hutan kami harus dihijaukan lagi,” kata Sutoyo.

Permintaan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran hutan tidak cukup hanya mengandalkan helikopter dan operasi pemadaman dalam waktu singkat. Petugas di darat juga memerlukan sarana untuk bergerak, berkoordinasi, dan memastikan titik api yang sulit terlihat tidak kembali membesar.