Demo MBG Meningkat, Pakar Sebut Gaya Orde Baru Sudah Tak Efektif Lagi

Strategi Demonstrasi Tandingan yang Ketinggalan Zaman

JAKARTA – Dalam berbagai situasi sosial dan politik, sering kali muncul aksi demonstrasi yang bertujuan untuk menunjukkan pandangan berbeda terhadap suatu isu. Salah satu contohnya adalah aksi tandingan yang muncul dalam konteks isu Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut pakar komunikasi politik, strategi ini dianggap sebagai cara lama yang sebelumnya digunakan pada masa Orde Baru.

Pola komunikasi politik yang menggunakan demonstrasi tandingan bertujuan untuk melemahkan pengaruh dari kelompok yang sedang menyampaikan aspirasi utama kepada pemerintah. Namun, di era digital saat ini, metode tersebut dinilai semakin tidak efektif. Media sosial dan arus informasi yang cepat membuat masyarakat lebih mudah mengakses berbagai sudut pandang, sehingga upaya untuk memengaruhi opini publik menjadi lebih sulit.

Tujuan Demonstrasi Tandingan

Menurut Jamiluddin Ritonga, kehadiran aksi tandingan selama ini dimaksudkan untuk menciptakan kesan bahwa kelompok yang melakukan demonstrasi utama hanyalah sebagian kecil masyarakat. Dengan demikian, publik diarahkan untuk melihat adanya kelompok lain yang dianggap lebih besar dan memiliki pandangan berbeda.

Baca Juga  Johannes Hengeveld, WNA Tewas di Air Terjun Lombongo Gorontalo

Tujuan sesungguhnya adalah membentuk pendapat umum bahwa demo yang dilakukan masyarakat itu hanya segelintir orang. Seolah ada kelompok masyarakat lain yang lebih besar yang menginginkan sebaliknya. Namun, perubahan gaya komunikasi di era modern membuat pola demonstrasi tandingan tidak lagi efektif. Komunikasi publik kini berlangsung dari berbagai arah melalui media sosial yang memungkinkan terbentuknya kelompok-kelompok dengan jaringan informasi yang kuat.

Efektivitas Demo Tandingan Menurun

Di era digital ini komunikasi menjadi zig-zag, datang dari segala arah. Karena itu upaya seperti demo tandingan tidak seefektif pada masa Orde Baru. Isu yang berkembang di media sosial dapat dengan cepat membesar dan menjadi viral sehingga sulit dilawan hanya dengan mengandalkan demonstrasi tandingan. Dengan kuatnya media sosial, kelompok-kelompok itu cepat membesar dan viral. Dan itu susah ditandingi.

Baca Juga  Menteri ESDM Ultimatum SPBU Swasta: Patuh Atau Cari Negara Lain!

Pola Pikir Media Mainstream yang Tidak Sesuai

Sebagian pihak masih menggunakan cara berpikir lama dengan mengandalkan peliputan media arus utama untuk membentuk opini publik. Padahal, dominasi media konvensional sudah jauh berkurang dibanding sebelum hadirnya media sosial. Mereka masih berpikir media mainstream sangat perkasa seperti sebelum ada media sosial. Padahal dengan komunikasi yang sekarang, pola pikir itu sebetulnya sudah ketinggalan zaman.

Ia menilai efektivitas komunikasi dari aksi tandingan saat ini sangat rendah karena publik memiliki banyak sumber informasi yang saling terhubung. Dengan begitu, setiap kelompok bisa dengan mudah menyebarkan pesan mereka tanpa harus bergantung pada media tradisional.

Baca Juga  Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Pertamina, Negara Rugi Rp 193,7 Triliun

Pemerintah Perlu Mengedepankan Komunikasi Politik yang Akomodatif

Oleh karena itu, dalam menghadapi protes masyarakat, Jamiluddin menilai pemerintah seharusnya mengedepankan komunikasi politik yang lebih terbuka terhadap kritik masyarakat dibandingkan menggunakan strategi tandingan. Saya melihat komunikasi politik yang dikembangkan seharusnya komunikasi politik yang akomodatif, bukan komunikasi politik yang berpikir untuk bertahan.

Komunikasi politik mode bertahan itu terlihat saat Kepala Badan Komunikasi RI Muhammad Qodari merespons keras desakan untuk menghentikan program MBG. Alih-alih menerima dahulu masukan masyarakat, ia dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah takkan menghentikannya.

Harusnya dia lebih akomodatif menampung dulu yang dipikirkan masyarakat bukan lantas mengatakan pemerintah tetap mempertahankan program MBG. Ini kan pola bertahan yang itu justru memancing amarah dari masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *