KWT Kamboja Putih: Dari Kebutuhan Kesehatan Hingga Menembus Pasar Internasional
JAKARTA – Kebutuhan akan suplemen kesehatan yang meningkat pada masa pandemi memberikan peluang bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Kamboja Putih di Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanahbumbu. Mereka memanfaatkan situasi tersebut untuk menciptakan produk minuman herbal yang terbuat dari jahe merah. Produk ini tidak hanya membantu masyarakat mengatasi berbagai keluhan kesehatan, tetapi juga menjadi bisnis yang sukses.
Pada awalnya, ide ini muncul karena peningkatan permintaan masyarakat akan minuman jahe. Rina, Ketua KWT Kamboja Putih, menjelaskan bahwa kebutuhan ini menjadi inspirasi untuk membuat ekstrak jahe merah. Produk tradisional ini mampu mengatasi masalah seperti flu, batuk, masuk angin, mual, pegal-pegal, serta melancarkan peredaran darah dan mengurangi kesemutan.
Awalnya, modal utama berasal dari resep yang dimiliki oleh Sri Sunanik, salah satu anggota KWT. Resep ini diperoleh setelah ia mengikuti pelatihan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) pada tahun 2015. Dengan resep tersebut, mereka mulai mengembangkan produk yang bebas bahan pengawet.
Seiring waktu, produk ini menyebar ke pasar ritel modern di berbagai kabupaten dan bahkan menembus pasar internasional seperti Jerman dan Hong Kong. Volume penjualan berkisar antara 500 hingga 1.000 unit per bulan. Keberhasilan ini tidak lepas dari kreativitas dan inovasi yang dilakukan oleh seluruh anggota KWT.
Mereka menciptakan empat varian rasa, yaitu:
* Ekstrak Jahe Merah Manis Original
* Ekstrak Jahe Merah Manis Gula Aren
* Ekstrak Jahe Merah plus Mengkudu
* Jahe Bubuk Murni Tanpa Gula
Untuk memastikan kualitas dan rasa, tim produksi melakukan uji rasa sebelum produk dikemas dalam standing pouch aluminium foil berukuran 100 gram. Setelah itu, strategi pemasaran digital dimaksimalkan melalui platform seperti TikTok. Konten kreatif yang dibuat berhasil meningkatkan popularitas produk hingga ke luar negeri.
Selain itu, UMKM ini juga melakukan riset pasar dan menemukan pergeseran demografi konsumen. Awalnya, produk ini ditujukan kepada kalangan usia 30 tahun ke atas. Namun, dengan promosi viral di media sosial, banyak anak muda yang mulai tertarik dan rutin mengonsumsinya.
Melihat potensi besar ini, KWT Kamboja Putih merencanakan perbaruan kemasan dengan desain yang lebih menarik dan meluncurkan produk baru, yaitu minuman susu jahe cair.
Di balik kesuksesan ini, ada kisah perjuangan yang menguras tenaga dan materi. Sri mengungkapkan bahwa proses pencarian resep yang tepat tidak mudah. Mereka mengalami beberapa kali kegagalan dan kerugian baik dalam hal waktu, tenaga, pikiran, maupun dana. Untuk mendapatkan umpan balik yang jujur, mereka mencoba produk tersebut ke beberapa warga.
Selain fokus pada produk dan pemasaran, KWT Kamboja Putih juga menerapkan prinsip nihil limbah (zero waste). Ampas jahe hasil pemerasan digunakan kembali sebagai bahan baku untuk membuat bubuk jahe tanpa gula. Bubuk ini digunakan sebagai bumbu rempah campuran kopi atau campuran pakan ternak warga.
Langkah kreatif ini membantu memaksimalkan keuntungan dan menyerap hasil panen dari petani jahe di Mantewe. Hal ini juga membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu sekitar, meskipun saat ini operasional produksi masih dijalankan secara mandiri oleh empat tenaga lokal.
Selain itu, KWT Kamboja Putih secara kontinyu menyerap panen jahe dari petani setempat. Kerja sama ini tidak hanya meningkatkan perekonomian petani, tetapi juga memicu minat warga sekitar untuk ikut membudidayakan jahe merah di pekarangan rumah dan kebun Dasawisma.






