Netizen Pinjam Uang dari Tabungan Sendiri, Ekonom Jelaskan Fenomena Ini

Fenomena “Borrowing from Saving” yang Ramai Dibicarakan di Media Sosial

JAKARTA – Beberapa waktu terakhir, istilah “borrowing from saving” atau meminjam uang dari tabungan sendiri menjadi topik yang ramai dibicarakan di media sosial. Fenomena ini muncul setelah seorang pengguna jaringan sosial mengajukan pertanyaan tentang apakah orang-orang sudah meminjam uang dari tabungan mereka pada bulan ini, mengingat bahwa saat ini adalah akhir bulan.

Pertanyaan tersebut menarik perhatian banyak warganet dan mendapatkan respons yang beragam. Banyak dari mereka mengakui bahwa mereka melakukan hal tersebut karena kondisi keuangan yang tidak stabil. Beberapa bahkan menyebutkan bahwa tabungan mereka telah habis, sementara yang lain mengaku telah menggunakan dana darurat untuk menutupi kebutuhan mendesak.

Apa Itu “Borrowing from Saving”?

Menurut Akhmad Akbar Susamto, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, istilah “borrowing from saving” bukanlah istilah formal dalam ilmu ekonomi, tetapi menggambarkan situasi nyata yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi ketika seseorang memiliki tabungan tetapi masih memilih untuk berutang.

Contohnya, sebuah keluarga mungkin memiliki tabungan khusus untuk kebutuhan darurat atau pendidikan anak. Namun, ketika ada kebutuhan mendesak seperti renovasi rumah, mereka tidak ingin mengganggu tabungan tersebut karena dianggap “suci”. Oleh karena itu, mereka memilih untuk meminjam uang dari bank atau koperasi, meskipun sebenarnya mereka memiliki tabungan.

Faktor Psikologis dan Budaya

Akhmad Akbar juga menyoroti bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi karena alasan finansial, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan budaya. Tabungan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus disimpan dan tidak boleh diganggu, sedangkan utang dianggap sebagai solusi praktis untuk kebutuhan mendesak.

Selain itu, ada juga alasan teknis, seperti bunga tabungan yang lebih rendah dibandingkan biaya penalti jika ditarik sebelum jatuh tempo. Hal ini membuat banyak orang lebih memilih mengambil kredit jangka pendek daripada mencairkan tabungan.

Sindiran Terhadap Kondisi Ekonomi

Dalam konteks unggahan yang sedang viral di media sosial, Akbar menilai bahwa istilah “borrowing from saving” bukan sekadar istilah ekonomi formal, melainkan sindiran terhadap kondisi sosial dan ekonomi saat ini. Banyak orang kini menghadapi situasi di mana penghasilan bulanan tidak cukup untuk menutupi seluruh kebutuhan.

Akibatnya, mereka terpaksa mengambil uang dari tabungan atau dana darurat, sehingga mengubah fungsi tabungan dari simpanan masa depan menjadi sumber pinjaman pribadi. Ini menunjukkan bahwa tabungan kini tidak lagi sepenuhnya berfungsi sebagai cadangan, tetapi justru digunakan untuk menambal pengeluaran bulanan.

Tindakan Ekonomi Lain yang Berkaitan

Selain “borrowing from saving”, Akbar juga menjelaskan beberapa istilah ekonomi yang berkaitan dengan tindakan masyarakat dalam menghadapi tantangan keuangan:

  1. Consumption smoothing

    Istilah ini merujuk pada upaya seseorang untuk menjaga pola hidup tetap stabil. Misalnya, ketika gaji kecil, seseorang bisa berutang, lalu saat penghasilan meningkat, mereka menabung.

  2. Saving–borrowing paradox

    Merupakan keanehan ketika seseorang menabung dan berutang secara bersamaan. Secara logika, mereka seharusnya menggunakan tabungan terlebih dahulu, tetapi dalam praktiknya, banyak orang tetap berutang meski punya simpanan.

  3. Liquidity constraint

    Kondisi di mana seseorang memiliki aset atau tabungan tetapi tidak bisa langsung digunakan. Contohnya, tabungan dalam bentuk deposito atau emas, yang meski terlihat kaya, tetap membutuhkan pinjaman.

  4. Mental accounting

    Secara psikologis, seseorang cenderung membagi tabungan berdasarkan tujuan tertentu, seperti pendidikan anak atau dana darurat. Karena sudah diberi label, mereka enggan menyentuh tabungan tersebut meskipun harus berutang.

  5. Debt-financed consumption

    Merujuk pada tindakan berbelanja dengan utang meskipun memiliki tabungan. Contohnya, membeli barang dengan kartu kredit padahal memiliki tabungan di rekening.

Kesimpulan

Fenomena “borrowing from saving” bukan hanya tren di media sosial, tetapi juga mencerminkan realitas ekonomi yang dihadapi masyarakat. Dengan biaya hidup yang meningkat dan pendapatan yang stagnan, banyak orang terpaksa meminjam dari tabungan sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan ekonomi tidak selalu didasarkan pada hitung-hitungan murni, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *