Saham dengan Valuasi Murah Muncul di Tengah Tekanan Pasar
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sejak awal tahun, dengan koreksi sebesar 11,71% secara year to date (YtD) ke level 7.634 per penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026). Meskipun sempat menguat dalam sepekan terakhir, IHSG masih dihadang oleh sentimen negatif dari konflik Timur Tengah, termasuk penutupan jalur Selat Hormuz.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sejumlah saham berkapitalisasi besar memiliki valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya. Dari pengamatan terhadap 10 saham terbesar dalam indeks LQ45, sebanyak 9 saham tercatat memiliki rasio harga terhadap laba (P/E) di bawah rata-rata lima tahun. Di sisi lain, seluruh saham dalam sampel tersebut juga mengalami penurunan harga sepanjang tahun berjalan.
Beberapa emiten menunjukkan kinerja fundamental yang baik, tetapi harga saham tidak mencerminkan kinerja tersebut. Contohnya, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang membukukan lonjakan laba bersih hingga 767% YoY pada 2025, namun harga sahamnya turun 31,80% YtD. Hal ini membuat valuasi BRPT menjadi lebih menarik, dengan P/E rasio di level 25,9 kali, jauh di bawah rata-rata lima tahun di level 284,94 kali.
Namun, tidak semua saham menunjukkan pola serupa. Pada saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), penurunan harga saham sejalan dengan pelemahan kinerja. Emiten tersebut mencatat penurunan laba bersih 60,91% YoY pada 2025, yang diikuti koreksi harga saham sebesar 13,62% YtD. Meski begitu, valuasi AMMN juga terpantau lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya, dengan P/E rasio 98,1 kali dari sebelumnya 532,74 kali.
Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT), Jovent Muliadi dan Axel Azriel menjelaskan bahwa koreksi IHSG sejak awal tahun dipicu oleh dua faktor utama, yakni peringatan MSCI terkait risiko penurunan status Indonesia ke frontier market serta revisi outlook fiskal oleh Fitch dan Moody’s. Selain itu, konflik Timur Tengah turut memperparah tekanan pasar.
Seiring dengan perbaikan beberapa sentimen, reformasi pasar modal yang dilakukan BEI dan OJK dinilai mampu meredakan kekhawatiran investor global terkait potensi penurunan peringkat Indonesia di indeks MSCI. Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan komitmen menjaga defisit fiskal di bawah 3%.
IPOT Sekuritas juga menilai kinerja fundamental emiten, khususnya yang tergabung dalam indeks LQ45, belum sepenuhnya tercermin dalam harga saham. Kinerja kuartal I/2026 diperkirakan menjadi katalis penting bagi potensi pembalikan arah pasar. Secara rata-rata, laba bersih emiten LQ45 pada 2025 tercatat mengalami kontraksi 2% YoY. Namun pada kuartal pertama 2026, kinerja tersebut diproyeksikan berbalik tumbuh hingga 16% YoY.
Sektor logam dan migas diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan estimasi masing-masing 89% dan 65%. Selain itu, sektor ritel, crude palm oil (CPO), dan telekomunikasi juga diproyeksikan mencatat pertumbuhan dua digit pada 2026.
IPOT Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham seperti BMRI, BBNI, dan BBTN di sektor perbankan. Untuk sektor logam, direkomendasikan ANTM dan BBTN, sementara AADI untuk sektor batu bara serta MAPI dan GOTO di sektor konsumer.
Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas juga mencatat sejumlah saham LQ45 yang saat ini diperdagangkan pada valuasi undervalued, di antaranya PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI).
Perkembangan Geopolitik yang Mengancam Pasar
Dalam sepekan terakhir, periode 13–17 April 2026, IHSG mencatat penguatan sebesar 2,35% atau 175,50 poin. Secara historis, performa IHSG cenderung positif pada periode April hingga Juni. Namun demikian, sentimen geopolitik kembali menjadi perhatian utama pasar.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan kembali menutup jalur Selat Hormuz akibat berlanjutnya blokade AS. Fokus market saat ini ialah terkait langkah Iran yang kembali menutup Selat Hormuz setelah sempat membuka jalur tersebut dikarenakan AS tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Maka dari itu, potensi kesepakatan damai antara AS dengan Iran meredup.
Secara teknikal, IHSG saat ini berada dalam kondisi overbought atau jenuh beli, sehingga berpotensi mengalami penguatan terbatas. Indikator Stochastic dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, namun volume transaksi cenderung menurun.
Mirae Asset Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak pada area support 7.590 dan 7.482, serta resistance di 7.779 dan 7.847. Sementara itu, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai konflik Timur Tengah akan berdampak pada pergerakan harga komoditas yang pada akhirnya memengaruhi kinerja emiten di sektor terkait.
Blokade di Selat Hormuz juga berpotensi mengganggu perdagangan minyak global serta meningkatkan biaya produksi dan transportasi, yang dapat berdampak pada emiten dengan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.
Di sisi lain, Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) menilai meskipun IHSG menunjukkan tren peningkatan, arah pergerakan pasar masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik global. KISI memperkirakan IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat namun tetap volatil, berada dalam rentang 7.190–7.960 pada pekan ini.
Fokus pasar juga akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan tetap di level 4,75%, serta data pertumbuhan kredit dan likuiditas domestik. Sementara sentimen eksternal seperti harga komoditas, arus dana asing dan perkembangan konflik geopolitik tetap menjadi penentu arah pergerakan IHSG.










