Pamor Pilih Dekat dengan Masyarakat
Salah satu karakter Pamor dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat adalah membangun komunikasi langsung dengan masyarakat. Ia tidak hanya mengandalkan forum resmi DPRD untuk mendengarkan aspirasi warga.
Secara kelembagaan, penyerapan aspirasi masyarakat dilakukan melalui agenda reses. Namun bagi Pamor, komunikasi dengan masyarakat seharusnya tidak berhenti ketika agenda reses selesai.
Ia memilih menggunakan berbagai momentum untuk tetap berada di tengah masyarakat. Pertemuan informal seperti jagong, layat, maupun berbagai kegiatan warga menjadi ruang baginya untuk mendengarkan persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung.
“Kalau secara regulasi, kita bisa melalui reses, di mana kita bertemu langsung dengan konstituen untuk menyerap aspirasi yang memang terjadi di lapangan. Kalau gaya saya memang gaya dialog, bisa lewat jagong, layat dan berbagai hal. Jadi, saya gunakan tiap momentum untuk selalu bisa berdekatan dengan masyarakat,” katanya.
Menurut Pamor, kedekatan dengan warga membuat seorang wakil rakyat dapat memahami persoalan secara lebih nyata. Aspirasi yang disampaikan masyarakat di lapangan juga dapat menjadi bahan untuk memperjuangkan kebijakan maupun pembangunan yang benar-benar dibutuhkan.
Dari interaksinya dengan masyarakat, Pamor melihat kebutuhan dasar masih menjadi persoalan yang harus mendapatkan perhatian. Ia menekankan pentingnya memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
“Cukup sandang, cukup pangan, cukup papan. Tiga itu yang utama. Negara harus bertanggung jawab bagaimana setiap warga negara bisa mendapatkan kecukupan sandang, pangan, dan papan,” tegasnya.
Infrastruktur Jadi Aspirasi Utama Warga Brebes
Dalam berbagai kunjungannya ke masyarakat, Pamor juga menemukan persoalan infrastruktur masih menjadi salah satu keluhan yang paling banyak disampaikan warga Brebes.
Menurutnya, kondisi geografis Brebes yang sangat luas membuat kebutuhan pembangunan infrastruktur menjadi tantangan tersendiri. Wilayah Brebes membentang dari kawasan Pantura, daerah pertanian, hingga wilayah pegunungan di bagian selatan.
Kondisi tersebut membuat pemerataan pembangunan menjadi hal yang penting untuk terus diperjuangkan.
“Brebes itu wilayahnya luas, membentang dari Pantura, kawasan pertanian, hingga wilayah pegunungan di selatan. Ketika kami turun ke bawah, dari kampung ke kampung sampai RT, rata-rata yang dikeluhkan masyarakat salah satunya adalah infrastruktur jalan,” kata Pamor.
Bagi Pamor, infrastruktur jalan bukan sekadar persoalan pembangunan fisik. Ketersediaan jalan yang baik berkaitan langsung dengan mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga konektivitas antarwilayah.












